news

3 Penyebab Gen Z Tidak Puas dengan Pekerjaan Baru dan Menyesal Meninggalkan Pekerjaan Lamanya

Rabu, 28 Desember 2022 | 07:19 WIB
Ilustrasi: Ada beberapa penyebab mengapa Gen Z tidak puas dengan pekerjaan barunya. (Freepik/Jcomp)

PejuangKantoran.com - Di Amerika telah terjadi fenomena pengunduran diri besar-besaran selama pandemi, yang disebut The Great Resignation. Apa sebenarnya penyebab para pekerja garis depan ini meninggalkan pekerjaan mereka? Lalu berkaitan dengan survei The Muse, apa penyebab Gen Z tidak puas dengan pekerjaan barunya?

Seperti telah disampaikan sebelumnya, The Muse membuat survei terhadap lebih dari 2.500 responden milenial dan Gen Z. Hasilnya, 72% pekerja muda menyesal meninggalkan pekerjaan lama. Apa penyebab Gen Z tidak puas dengan pekerjaan barunya?

Baca Juga: 72% Gen Z Menyesal Meninggalkan Pekerjaan Lama Karena Pekerjaan yang Baru Tak Sesuai Harapan

Setidaknya ada tiga penyebab karyawan Gen Z tidak puas dengan pekerjaan barunya, yang masing-masing memiliki implikasi berbeda terhadap strategi rekrutmen dan kepuasan kerja:

Rumput tetangga lebih hijau

Dalam penelitian Pew Research Center baru-baru ini, sekitar separuh responden yang berhenti dari pekerjaan dari arus The Great Resignation mengaku mendapat gaji lebih besar (56%), lebih banyak kesempatan untuk maju (53%), lebih mudah menyeimbangkan pekerjaan dan keluarga (53%), dan fleksibilitas untuk memilih kapan mereka masuk kerja (50%).

Tampaknya perubahan karier mereka dimotivasi oleh keinginan untuk mendapatkan apa yang tidak mereka miliki, baik ketika mereka mencari pekerjaan baru maupun ketika mereka mendapatkannya.

Dalam setiap kasus, ini yang kita kenal dengan istilah “rumput tetangga tampak lebih hijau” daripada yang sebenarnya. Akibatnya, kelemahan dari pekerjaan lama jadi tampak kurang berarti, dan tunjangan-tunjangan pekerjaan baru jadi berkurang nilainya.

Baca Juga: Berapa Lama Harus Bertahan dengan Pekerjaan yang Tidak Disukai Sebelum Resign?

Nostalgia

Karyawan merindukan hari-hari indah di perusahaan lama, ketika mengingat peristiwa-peristiwa menyenangkan, atasan yang baik, atau hal-hal yang tidak bisa diakses lagi seperti sebelumnya.

Perasaan positif yang dialami individu saat bernostalgia itu menyesatkan. Dengan kata lain, mereka tidak menggambarkan dengan akurat seberapa baik pekerjaan lamanya, atau seberapa positif perasaan mereka tentang hal itu sebelumnya.

Felipe De Brigard, Profesor Filsafat, Psikologi, dan Ilmu Saraf di Duke University, mengatakan seseorang bisa merasa senang atau bernostalgia pada saat-saat yang sebenarnya tidak mereka nikmati.

Saat membandingkan pekerjaan saat ini dengan pekerjaan lama, karyawan bisa salah mengingat perasaan mereka dan salah mengidentifikasi nilai relatif dari setiap pekerjaan.

Pada akhirnya, kepuasan kerja terhadap posisi mereka saat ini rendah karena otak mereka salah menggambarkan betapa baiknya pekerjaan mereka yang terakhir ini.

Halaman:

Tags

Terkini