Lebih lanjut, Sandiaga Uno juga mengingatkan soal sisi negatif dari media terhadap pariwisata nasional. Dia memberi contoh, tahun lalu, pemerintah menargetkan 50 juta pergerakan wisatawan. Namun angka tersebut tidak tercapai.
Baca Juga: Asal Usul Hari Valentine, Kisah tentang Santo Pelindung yang Kemudian Malah Dikomersialkan
“Setelah kita analisis, ternyata banyak yang membatalkan wisatanya setelah melihat berita cuaca ekstrem. Karena berita itu diberitakan seolah-olah cuaca ekstrem terjadi di seluruh Indonesia, padahal hanya di wilayah-wilayah tertentu saja, akhirnya mereka membatalkan kunjungan,” terang Sandiaga Uno.
Dari situ, Sandiaga pun berharap media-media di Indonesia bisa membangun narasi yang tepat jika menyangkut pariwisata Indonesia.
“Bangun narasi yang tepat, apalagi menyangkut pergerakan. Karena setiap pergerakan, ini hasilnya adalah geliat ekonomi,” ujarnya lagi.
Lebih jauh, Sandiaga Uno menjelaskan bahwa pada tahun lalu ada sekitar 1,1 juta lapangan kerja baru tercipta di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
“Dengan dukungan media, saya yakin 2024, target kita 4,4 juta lapangan kerja baru bisa tercipta,” pungkasnya.
“Mereka mengeluh pemberitaan media tentang Gunung Agung meletus. Jadi gunung itu meletus, tapi empat bulan kemudian sudah agak reda. Tapi tentu saja, turis-turis dari Jepang, Korea, China tidak berani ke Bali karena ketika mereka search di Google, yang keluar adalah gambar-gambar seram dari Bali ketika Gunung Agung meletus empat bulan yang lalu,” urainya.
Baca Juga: Berapa Idealnya Panjang Resume Supaya Tidak Langsung Terhapus oleh Sistem Tracking Otomatis?
“Jadi kita masuk ke dalam ekosistem global di mana informasi, disinformasi bisa merugikan kita. Poin saya adalah, kebebasan pers, kebebasan media hari ini tidak bisa dilepaskan dari isu nationality,” sambungnya.
Dia lebih lanjut mengatakan, good content dan good journalism harus jadi mandat utama bagi media. Agus pun kembali menegaskan soal pentingnya sense of nationality bagi media dalam membangun narasi pemberitaaan.
“Kemudian juga yang ada sense of nationality-nya itu harus muncul, baik terkait isu pariwisata nasional, minyak sawit, dan lain-lain. Kita harus kritis terhadap pemerintah, iya. Tapi kita juga harus memperhatikan kepentingan nasional kita, terkait dengan Papua, pariwisata, dan lainnya,” katanya lagi.
Artikel Terkait
5 Rekomendasi Kado Valentine Bermakna Buat si Dia, Enggak Harus Mahal
5 Ide Kado Valentine untuk Si Workaholic, Bisa Ditaruh di Meja atau Dipeluk Saat Capek Kerja
Biar Lebih Spesial, Fitur Chat WhatsApp ini Buat Kamu dan Si Dia Jadi Makin Romantis di Hari Valentine
Mengapa Banyak Perusahaan Teknologi Teratas di Amerika Memiliki CEO Berdarah India?
Taskya Namya Tetap Happy Kerja di Lokasi Syuting Penuh Mistis dan Horor
Besok Sudah Senin, Ini Kata-kata Motivasi Buat Kamu yang Besok Kerja
Punya Indera Keenam, Ini yang Dialami Taskya Namya Ketika Syuting Film Waktu Maghrib
Walaupun Sangat Menghormati Sundar Pichai, Satya Nadella Yakin Microsoft Bisa Mengalahkan Google
Pertanyaan Klasik Terjawab: Apa Investasi Paling Aman?
Berapa Idealnya Panjang Resume Supaya Tidak Langsung Terhapus oleh Sistem Tracking Otomatis?
Link Twibbon Buat Meriahkan Hari Valentine-mu dan Si Dia