Memahami Ketidakpastian Ekonomi 2025, Harus Ngapain Biar Nggak Boncos?

photo author
Christina A.S, Pejuang Kantoran
- Sabtu, 21 Desember 2024 | 19:03 WIB
Ilustrasi: Seiring kondisi keuangan yang membaik, pengeluaran pun jadi meningkat. (Freepik)
Ilustrasi: Seiring kondisi keuangan yang membaik, pengeluaran pun jadi meningkat. (Freepik)

PejuangKantoran.com - Perjalanan ekonomi sektor global dan domestik menunjukkan tren yang dinamis sepanjang 2024. Meski demikian, ketidakpastian ekonomi masih akan membayangi kita pada 2025.

Baca Juga: Apakah Gaji Ke-13 dan Bonus Bisa Bikin Karyawan Merasa Puas Bekerja di Perusahaan?

Alexander Grenz, Country Manager & President Director Allianz Life Indonesia, menyampaikan bahwa meskipun ketidakpastian akan terus berlanjut di tahun 2025, Allianz Indonesia tetap berkomitme n untuk memastikan masa depan yang lebih baik bagi masyarakat Indonesia.

“Kami percaya bahwa perlindungan asuransi menjadi kunci untuk mencapai keamanan finansial. Kami secara rutin menyelenggarakan kegiatan literasi keuangan dan menyediakan berbagai solusi perlindungan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat,” ujar Alexander saat  Economy Outlook 2025: How Insurance & Media Industry Navigate the Uncertainty.

Proyeksi Ekonomi Global dan Tantangan 2025
Mengawali diskusi, Poltak Hotradero, Business Development Advisor di Bursa Efek Indonesia, mengungkapkan bahwa pada tahun 2024, ekonomi global diperkirakan tumbuh sekitar 3,2%. Pencapaian ini cukup signifikan mengingat tidak adanya resesi global dan penurunan inflasi yang cukup stabil.

Namun, perekonomian global masih berada dalam situasi yang penuh ketidakpastian. Berbagai faktor seperti konflik geopolitik, upaya negara besar untuk bangkit kembali, dan masalah utang yang membelit negara berpenghasilan rendah, menjadi tantangan besar bagi pertumbuhan ekonomi global.

Poltak juga menambahkan bahwa pasca Pemilu AS, arah kebijakan ekonomi yang akan diambil oleh Presiden dan Wakil Presiden terpilih akan mempengaruhi ekonomi global. Meskipun ada upaya untuk mencapai soft landing atau penurunan perlambatan ekonomi yang tidak menyebabkan resesi, tantangan tersebut masih akan terus ada.

Baca Juga: Klarifikasi CEO Octopus Tegaskan Hamish Daud Tak Ada Sangkut-pautnya dengan Gaji Karyawan

Perekonomian Indonesia juga diperkirakan akan menghadapi ke tidakpastian yang sama. Meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat 4,95% pada kuartal ketiga 2024, yang didorong oleh aktivitas musiman seperti Pemilu, Idulfitri, dan liburan, Poltak menyebutkan bahwa ada tanda-tanda perlambatan jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya.

Ke depan, momen Natal dan Tahun Baru diharapkan memberikan dorongan bagi ekonomi, namun tidak ada lonjakan signifikan yang diperkirakan.

Ketidakpastian ini menyebabkan meningkatnya harga barang pokok, bahan bakar, gas elpiji, serta tarif transportasi. Hal ini membuat masyarakat lebih berhati-hati dalam pengeluaran mereka, dan menyebabkan daya beli yang lesu.

Sektor manufaktur Indonesia pun tertekan, dengan Purchasing Managers Index (PMI) pada Juli 2024 turun ke level 49,7, yang menandakan adanya pelemahan ekonomi. Bahkan, tingkat pengangguran juga meningkat, seiring dengan gelombang PHK yang terjadi di berbagai industri.

Poltak menekankan bahwa kelompok kelas menengah paling merasakan dampaknya, padahal mereka memiliki kontribusi besar terhadap daya tahan perekonomian.

Oleh karena itu, ia menyarankan masyarakat untuk menjaga cash flow, tidak terjebak dalam utang yang menumpuk, memiliki dana darurat, serta tetap berinvestasi meskipun dalam kondisi sulit. Perlindungan asuransi yang tepat, baik melalui BPJS atau asuransi swasta, juga sangat penting untuk menghadapi masa-masa penuh ketidakpastian ini.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Christina A.S

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X