4 Alasan Orang Susah Menabung untuk Dana Darurat, Bukan Melulu karena Pendapatan yang Rendah

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Kamis, 16 Januari 2025 | 22:11 WIB
Ilustrasi: Banyak penyebab mengapa orang sulit menyisihkan uang untuk dana darurat. (Freepik)
Ilustrasi: Banyak penyebab mengapa orang sulit menyisihkan uang untuk dana darurat. (Freepik)

PejuangKantoran.com - Di tahun yang baru ini, kamu sebaiknya mulai memikirkan masa depan keuangan dengan serius. Apalagi, beberapa ahli keuangan menyebut beberapa tahun ke depan akan semakin sulit dari segi keuangan.

Salah satu cara terbaik untuk tetap berada di jalur yang benar adalah dengan memiliki dana darurat yang kuat.

Sayangnya, mengumpulkan uang untuk dana darurat sangat sulit dilakukan bagi banyak orang. Sebuah survei terbaru dari GOBankingRates menemukan bahwa 49% orang di Amerika Serikat hanya memiliki tabungan kurang dari satu bulan pengeluaran.

Baca Juga: Berencana Kuliah di Belanda? Jangan Lupa Cek Informasi Beasiswa StuNed dan Orange Tulip

Bahkan, ada 37,4% orang yang tidak memiliki tabungan darurat dan 11,6% yang janya memiliki tabungan kurang dari satu bulan.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Berikut ini beberapa alasan utama banyak orang kesulitan menabung dana darurat dan beberapa cara untuk mengatasinya.

1. Memiliki pola pikir yang salah

Menurut Kevin Shahnazari, pendiri dan CEO FinlyWealth, kesulitan menabung dana darurat yang utama bukan hanya karena pendapatan yang rendah.

“Ini adalah jebakan psikologis yang melihat tabungan darurat sebagai uang yang 'dikunci' dan bukannya sebagai asuransi kebebasan finansial,” katanya.

Jadi, mengubah pola pikir ini adalah kuncinya. Jika itu bisa dilakukan, kamu bisa berhasil membangun dana darurat mereka tiga kali lebih cepat.

Baca Juga: Tak Cuma Pulihkan Ekosistem, BRI Menanam-Grow & Green Dorong Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat

2. Tidak langsung membuahkan hasil

“Membangun dana darurat terasa berat karena tiga faktor utama, pendapatan rendah, kurangnya penganggaran yang konsisten, dan kebiasaan belanja yang impulsif,” jelas pakar keuangan Shirley Mueller.

Apalagi ketika pendapatan hampir tidak mencukupi kebutuhan maka ide untuk menyisihkan uang bisa jadi terlihat mustahil.

Jadi, bagi sebagian orang, ini bukan tentang apa yang mereka hasilkan, tetapi bagaimana membelanjakannya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Yahoo Finance

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X