PejuangKantoran.com - Selama berabad-abad, emas memegang gelar sebagai safe haven—aset investasi yang dipercaya mampu mempertahankan bahkan meningkatkan nilai di tengah ketidakpastian ekonomi.
Kilau logam mulia ini menjadi simbol kestabilan yang tak tergoyahkan, bahkan saat pasar global bergejolak.
Namun, memasuki era digital, paradigma itu mulai bergeser. Hadirnya Bitcoin sebagai alternatif “emas digital” memicu perdebatan di kalangan investor: manakah yang lebih unggul sebagai penyelamat kekayaan?
Dalam siniar Success Before 30 yang tayang 4 Agustus 2025, Oscar Darmawan—pengusaha sekaligus CEO Indodax—menyatakan bahwa cara kerja emas dan Bitcoin memiliki kemiripan yang mengejutkan.
“Kita harus tahu, cara kerja emas dan Bitcoin itu mirip, atau bahkan sama persis,” ujar Oscar.
Baca Juga: 6 Tanda Tak Terduga Kamu Kurang Minum Air Atau Dehidrasi dan Cara Mengatasinya
Nilai yang Dibentuk dari Biaya Produksi
Oscar menjelaskan bahwa nilai emas tidak muncul begitu saja. Setiap gramnya membutuhkan biaya eksplorasi yang signifikan—mulai dari penambangan, pemurnian, hingga distribusi.
“Biaya eksplorasi emas itu hampir 50 USD atau sekitar Rp818 ribu per gram,” ungkapnya. Selain faktor biaya, keterbatasan pasokan emas di bumi menjadi pendorong utama kenaikan harga seiring meningkatnya permintaan.
Menariknya, logika yang sama berlaku pada Bitcoin. Meski wujudnya digital, proses “menambang” Bitcoin menuntut investasi besar pada peralatan khusus dan infrastruktur, serta konsumsi energi yang masif.
“Untuk menciptakan satu Bitcoin, biaya listriknya saja hampir 25.000 USD, atau sekitar Rp408 juta. Itu belum termasuk pembelian alat mining dan infrastruktur lainnya,” papar Oscar.
Baca Juga: Italia Buka Kuota 500 Ribu Pekerja Migran untuk 2026 – 2028, Siap Hapus “Click Day”. Apa Itu?
Dua Safe Haven, Satu Tujuan
Baik emas maupun Bitcoin sama-sama menawarkan ketahanan nilai di tengah gejolak pasar. Perbedaannya terletak pada bentuk dan ekosistemnya: emas bersifat fisik dan berabad-abad menjadi tolok ukur kekayaan, sementara Bitcoin adalah aset digital yang lahir dari teknologi blockchain dan volatilitasnya masih tinggi.
Artikel Terkait
Tarif Trump 32% ke RI Picu Kekhawatiran Investor, Strategi Diversifikasi Disarankan
5 Jebakan Metode Cash Stuffing yang Harus Diwaspadai, Salah Satunya Godaan untuk Pinjam Uang
Yuk, Jadikan Hobi Kamu Cuan! Tapi Jangan Buru-Buru Resign, Lakukan Dulu 9 Langkah Ini
Danamas Stabil Pertahankan Posisi Puncak, Ini 10 Reksadana Pendapatan Tetap Terbesar Juni 2025
Bagi Gen Z, Kripto Sudah Jadi Dompet Digital untuk Belanja Kebutuhan Sehari-hari. Apa yang Dibeli?
Ini Langkah-Langkah Yang Harus Kamu Lakukan Supaya Rekeningmu Tidak Dianggap Dormant
Patahkan Mitos Generasi Boros, Milenial dan Gen Z Ternyata Rajin Menabung! Hanya Caranya Saja yang Berbeda
Punya NPWP Belum Tentu Harus Bayar Pajak, Ini Penjelasan DJP
Beli Emas Kini Bebas Pajak, Pemerintah Resmi Hapus PPh untuk Masyarakat Umum
Investor Newbie Mesti Tahu Beda Reksa Dana dan Saham, Apa Keuntungan dan Risikonya?