saving

Awas Modus Penipuan Makin Banyak, Ini Lima Ancaman Keamanan Transaksi Digital yang Sering Terjadi

Rabu, 13 Desember 2023 | 09:47 WIB
Ilustrasi Tips Transaksi Online Tanpa Risiko Penipuan (Freepik.com/ pch.vector)

PejuangKantoran.com - Hati-hati kalau kamu suka belanja online. Bukan cuma perkara belanjaan yang mungkin saja berbeda dengan aslinya, namun juga soal keamanan transaksi digital. 

Pasti tahu dong sekarang ini sudah banyak penipuan yang muncul dengan berbagai modus. Oleh karena keamanan transaksi digital kamu sangatlah penting. 

Keamanan transaksi digital menjadi salah satu issue penting saat ini, termasuk saat bertransaksi online di online shopping.  

Baca Juga: Ini Uang Logam Rp500 dan Rp1.000 yang Ditarik Bank Indonesia, Kamu Masih Punya Nggak?

Berdasarkan laporan dari Statista Technology Market Outlook, kerugian global akibat kejahatan siber diperkirakan mencapai US$8,44 triliun (setara dengan Rp129,643 triliun) pada 2022.

Angka tersebut meningkat 40,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebesar US$5,99 triliun (setara dengan Rp92 triliun).

Statista juga memperkirakan kerugian tersebut akan terus meningkat mencapai US$11,5 triliun (setara dengan Rp177 triliun) di 2023 dan berpotensi melonjak ke US$23,82 triliun (setara dengan Rp354 triliun) pada 2027.

Selain itu, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) memperkirakan adanya berbagai ancaman siber yang lebih luas dan banyak, misalnya melalui ransomware, kebocoran data, dan phishing, terutama pada sektor keuangan di Indonesia pada 2023. 

Baca Juga: Jangan Tersinggung Dulu, Ini Alasan Kenapa Mie Lethek Disebut Mie Terjelek di Dunia

Ada banyak masalah soal keamanan transaksi digital

Ekosistem A2P saat ini berkembang mencapai valuasi US$29 miliar pada 2024, omset yang hilang akibatpenipuan juga meningkat.

Hal ini semakin mendorong pentingnya jaminan jalur komunikasiyang aman dan terjaga bagi bisnis yang berada di dalam ekosistem A2P. 

Sebenarnya, bukan cuma pelanggan atau masyarakat saja yang terganggu dengan masalah ini, tapi juga pelaku bisnis dan operator seluler. 

Saat ini juga tercatat lebih dari 900 ribu ancaman siber yang teridentifikasi sebagai ransomware yang berpotensi merusak reputasi perusahaan hingga mengakibatkan kebangkrutan.

Halaman:

Tags

Terkini