Harapannya, film Sehidup Semati ini bisa lebih membuka mata publik mengenai efek buruk dari KDRT. Selain itu juga jadi lebih mampu berempati pada perempuan-perempuan yang mengalaminya.
“Itu sebabnya saya ingin sekali membuat cerita ini supaya tidak ada lagi perempuan-perempuan seperti Renata. Berharap perempuan mempunyai support system yang bagus.
“Dan, tidak ada lagi laki-laki seperti Edwin yang menggunakan dalil-dalil atau keyakinan untuk pembenaran terhadap apa yang ia lakukan,” imbuhnya.
Baca Juga: Pertanyaan Saat Wawancara Kerja untuk Posisi Data Analyst, dan Cara Menjawabnya
Menulis skenario dan kemudian mewujudkannya sebagai gambar hidup dengan tema berat diakui Upi bukanlah hal mudah. Perlu waktu 13 tahun baginya untuk merampungkan produksi sampai akhirnya siap tayang pada 11 Januari.
“Sebenarnya eksekusi tidak susah karena saya punya tim yang sangat kuat. Tapi, bagaimana menjual cerita ini pertama kali, itu yang susah. Agak susah karena pertama genre-nya bukan genre yang umum.
“Kedua, mungkin ceritanya bagi beberapa orang terasa cukup sensitif, walau sebenarnya kan isunya sangat relate. Makanya, saya harus menunggu 13 tahun.
“Sejujurnya, saya pernah mencoba menawarkan kepada beberapa produser tapi ya mungkin mereka belum berani. Selama 13 tahun, baru terwujud saat ini. Pak Chand Parwez (Starvision) yang berani untuk mengambil cerita ini,” tutupnya. (Syanne Susita)
Artikel Terkait
Pemilu 2024 Sebulan Lagi, Cek Apakah NIK Kamu Sudah Terdaftar sebagai Pemilih Tetap!
Cara Mengurus Form Pindah Memilih Kalau Mau Nyoblos di Luar Domisili, Batas Waktunya 15 Januari!
Bank Indonesia Bilang, 6 Bulan ke Depan, Mencari Pekerjaan Lebih Sulit
Ternyata, Kamu Bisa Membeli Rumah KPR Senilai Rp500 Juta dengan BPJS Ketenagakerjaan, Lho!
Duolingo PHK Karyawan, Pecat Penerjemah Manusia dan Menggantikannya dengan AI
Kelompok Usia 20-30 Tahun Paling Khawatir Tak Dapat Pekerjaan
Dispatch Bongkar Isi Pesan Percakapan 2 Wanita yang Diduga Ancam dan Peras Lee Sun Gyun