Kaka Boss Berangkat dari Kegelisahan Arie Kriting tentang Perantau Indonesia Timur di Jakarta

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Rabu, 28 Agustus 2024 | 18:25 WIB
Alasan di balik cerita Arie Kriting tentang kehidupan perantau asal Indonesia Timur lah yang akhirnya membuat Kaka Boss akhirnya tayang di bioskop.  (Instagram/Imajinari )
Alasan di balik cerita Arie Kriting tentang kehidupan perantau asal Indonesia Timur lah yang akhirnya membuat Kaka Boss akhirnya tayang di bioskop. (Instagram/Imajinari )

PejuangKantoran.com - Film Kaka Boss semula dijadwalkan menjadi film kedua yang akan dirilis rumah produksi Imajinari setelah Ngeri-Ngeri Sedap.

Namun, kesuksesan film yang disutradarai oleh Bene Dion ini membuat Arie Kriting yang menjadi pencetus ide cerita sekaligus sutradaranya langsung minder.

Komika kelahiran Kendari, 39 tahun lalu itu mendadak merasa belum siap untuk mengedarkan film yang mengangkat kehidupan perantau asal Indonesia Timur di Jakarta itu.

Baca Juga: Tiket Nobar Kaka Boss di Hari Kemerdekaan Langsung Ludes, Apa yang Bikin Film Ini Ditunggu-tunggu?

Fun fact-nya setelah Ngeri-Ngeri Sedap, harusnya yang rilis adalah Kaka Boss. Cuma Arie nggak pede. Kata Arie, Ngeri-Ngeri Sedap cukup membuat beban mental sampai skrip diulang dari awal.

“Tapi, saya percaya ketika keresahan itu lahir dari kejujuran, harusnya itu jadi cerita yang luar biasa,” terang Dipa Andika, produser eksekutif sekaligus pendiri Imajinari, saat gala premiere Kaka Boss di Epicentrum XXI, Kuningan, Jakarta, Kamis (22/8/2024).

Meskipun butuh waktu lama sampai akhirnya merilis film ini, baik Dipa maupun partnernya di Imajinari, Ernest Prakasa, tidak terlalu memusingkan hal tersebut. Ia lebih mempertimbangkan alasan mengapa film ini perlu dibuat.

“Konsep film ini sudah saya bicarakan bersama Arie Kriting sejak 2017. Saat itu kita lagi syuting Susah Sinyal. Arie pernah cerita kegelisahannya.

“(Katanya) Kenapa cerita tentang orang Indonesia Timur yang (merantau) di Jakarta lebih banyak sedihnya, penderitaan, dan kesenjangannya, daripada teman-teman di Indonesia Timur nun jauh di sana,” kata Ernest Prakasa, yang ikut berperan sebagai Alan di film.

Menurut Ernest, ketika ada kreator yang menawarkan cerita untuk digarap sebagai film, biasanya yang ia tanyakan bukan “apa” ceritanya, melainkan “mengapa”. Mengapa kita perlu membuat film ini?

Baca Juga: Tesla Buka Lowongan Kerja bagi Pekerja Asing untuk Bekerja Remote dengan Gaji Rp4,1 Miliar

Arie Kriting disebutnya punya alasan kuat mengenai unsur “mengapa” sehingga akhirnya mereka sepakat untuk membuat Kaka Boss.

Jadi, bukan sekadar setelah menggarap kisah tentang etnis Batak, lalu Indonesia Timur, setelah itu Jawa, Kalimantan, dan seterusnya.

Mundurnya jadwal rilis film ini pun menjadi seperti blessing in disguise bagi tim produksi, karena semua yang terlibat justru bisa bekerja lebih nyaman dan persiapan jadi lebih matang.

“Setelah selesai syuting Agak Laen, kita masuk ke tahap preps untuk Kaka Boss. Bulan Desember, kita syuting.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X