Film 'Air Mata Mualaf' Angkat Isu tentang Hubungan Emosional Ibu-Anak yang Pindah Keyakinan

photo author
Syanne Susita, Pejuang Kantoran
- Senin, 24 November 2025 | 09:29 WIB
Film Air Mata Mualaf tidak berfokus pada tema reliji, tetapi pada hubungan antarkeluarga. (Instagram @airmatamualaf.movie)
Film Air Mata Mualaf tidak berfokus pada tema reliji, tetapi pada hubungan antarkeluarga. (Instagram @airmatamualaf.movie)

PejuangKantoran.com - Dari judulnya, Air Mata Mualaf, orang akan beranggapan bahwa ini akan mengangkat tema religi. Namun, sejak awal Air Mata Mualaf memang akan digarap dengan tema tentang dinamika keluarga.

Bagaimana reaksi keluarga saat menghadapi prahara dengan penekanan pada relasi ibu-anak, isu lintas generasi, serta proses menerima perbedaan dalam keluarga.

“Film ini jujur bukan tentang agama saja, tetapi tentang keluarga yang penuh empati. Setiap keluarga pasti punya konflik, antara abang dan adik, emak dan bapaknya, atau ibu sama anaknya.

Baca Juga: Hati-Hati, Ini 9 Tanda Rekan Kerja Diam-diam Ingin Merusak Reputasi Kamu di Tempat Kerja!

"Tema ini tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di negara-negara di luar,” ujar produser Dewi Amanda, saat ditemui di gala premiere di Epicentrum XXI, Jakarta, Rabu (17/11/2025).

Produser yang juga ikut berakting di film ini percaya tema tersebut universal dan dialami banyak orang. Salah satu yang merasa cerita ini memiliki kedekatan bahkan beberapa pemainnya, seperti Achmad Megantara, Dewi Irawan, dan Yama Carlos.

Megan, panggilan akrab Achmad Megantara, mengaku bahwa ia memiliki ibu yang juga pindah keyakinan agama, dan sempat sulit untuk diterima oleh keluarga. Namun, kegigihan sang ibu untuk terus mendekat akhirnya meluluhkan hati keluarga.

“Pelajarannya sangat menarik. Langsung dari ibu saya sendiri, sih! Proses mama memakai hijab itu sebuah hal yang sangat, sangat besar! Ya, seperti yang di film ini juga ketika Anggie (karakter utama yang diperankan oleh Acha Septriasa) memutuskan menggunakan hijab!” ujar Megan.

Perbedaan dalam keluarga, bukan hanya soal kepercayaan, seharusnya tidak membuat perpecahan. Sutradara Indra Gunawan ingin film ini lebih berfokus pada kehangatan keluarga.

“Awalnya, kita sepakat kalau kita tidak ingin mengangkat tentang agama karena tema seperti itu tema sensitif. Saya fokus tentang keluarga.

Baca Juga: Yura Yunita Memasukkan Cita-Cita Masa Kecilnya dalam Video Musik Single Terbaru 'Mau Jadi Apa'

"Saya merasa fragmen seperti ini belum pernah digali lebih dalam. Apalagi hubungan antara ibu dan anak yang sangat emosional karena biasanya anak perempuan kan, sangat dekat dengan ibunya!” papar Indra.

Dipercaya sebagai Anggie, karakter utama di film, Acha Septriasa mencoba mengambil emosi dan rasa dari pengalaman pribadinya. Selain itu, ia juga membayangkan posisi anaknya sendiri yang saat ini tinggal di Australia bersama sang ayah, yang memiliki gaya hidup berbeda.

“Untuk karakter Anggie sendiri memang sebagai Acha tidak langsung mengalami, walaupun dulu sempat pacaran beda agama. Hanya sekarang, karena berada di Australia, di mana saya tahu anak saya tinggal di lingkungan yang lebih banyak orang western-nya.

"Jadi, saya membayangkan anak saya, menjadi Brigia. Apa yang dilakukan jika dia bersekolah di luar negeri, jauh dari orang tua. Saat mengalami toxic relationship, ia tidak punya pegangan di mana ia bisa mencurahkan isi hatinya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X