Kisah 'Sengkolo Petaka Satu Suro' Diilhami Pengalaman Penulis yang Diganggu Kuntilanak saat Hamil

photo author
Syanne Susita, Pejuang Kantoran
- Sabtu, 17 Januari 2026 | 08:00 WIB
Sengkolo Petaka Satu Suro mengisahkan teror di desa yang mengincar para perempuan yang sedang hamil. (IMDb)
Sengkolo Petaka Satu Suro mengisahkan teror di desa yang mengincar para perempuan yang sedang hamil. (IMDb)

PejuangKantoran.com - Melanjutkan kesuksesan film Sengkolo di tahun 2024, MVP merilis film Sengkolo Petaka Satu Suro yang naskahnya ditulis oleh penulis yang sama, yaitu Maruska Bath.

Proses penggarapan skenario ini butuh waktu dua tahun, yang isinya terinspirasi oleh pengalaman sang penulis sendiri.

“Sebenarnya aku bikin cerita ini sudah lama, hampir dua tahun yang lalu. Karena waktu hamil, aku sering diganggu kuntilanak. Aku suka digangguin sampai anakku lahir, kuntilanak itu masih ngintil terus sampai babysitter aku berhenti, pembantu aku berhenti!

Baca Juga: Contoh Surat 'To Whom It May Concern' dan Kapan Sebaiknya Tidak Menggunakan Salam Pembuka Ini

"Dari situ, aku berpikir menarik ya bikin cerita tentang orang hamil, yang setelah digodok sana sini, jadilah Sengkolo Petaka Satu Suro tentang ibu hamil,” ujar Uska, panggilan akrab Maruska Bath, saat konferensi pers di Epicentrum XXI, Jakarta, Selasa (13/1/2026).

Selama penulisan skenario, Uska didampingi Alim Sudio sebagai editor yang melakukan supervisi pergerakan babak demi babak dalam skenario. Alim menilai daya tarik film ada pada karakter utama Rahayu yang diperankan Aulia Sarah.

Latar belakang pekerjaan Rahayu sebagai bidan tentunya sangat kontras dengan apa yang ia lakukan setelah terkena petaka satu suro. Rahayu malah membunuh bayi-bayi yang baru dilahirkan.

Menurut Alim, yang paling krusial dalam film horor adalah pada act 3 (babak ketiga), yaitu bagaimana penulis menyelesaikan kasus dan persoalannya. Keberhasilan Sengkolo    dinilainya merupakan kontribusi bersama antara kru dan pemain.

Misalnya, di skenario tidak dituliskan secara jelas bahwa Rahayu berubah menjadi setan. Namun di film, tangannya tampak seperti orang-orangan sawah.

"Itu kreasi yang luar biasa. Kalau kerja sama pakai cinta beneran, ya begitu ya, antara Deni dan Hadrah!” ucap Alim, setengah meledek sutradara Deni Saputra dan Hadrah Daeng Ratu, yang tak lain pasangan suami istri.

Baca Juga: Apa Sih Arti 'To Whom It May Concern', dan Kapan Harus Memakai Salam Pembuka Tersebut?

Deni, yang sebelumnya dikenal sebagai pemain dan produser film, tergerak untuk menggarap cerita ini sejak pertama membaca skenarionya. Ia menilai skenario Maruska sudah matang sehingga bisa langsung memulai penggarapan filmnya.

“Skrip Sengkolo ini skrip yang sudah siap. Saya tertantang membuat horor yang berbeda. Bekerja sama dengan Hadrah, saya coba mencari seperti apa treatment (pengadeganan karakter) supaya suguhannya berbeda dari film-film lain.

"Beberapa di antaranya ya seperti konsep karakter Rahayu untuk cara jalannya, agar film Sengkolo menjadi lebih kuat lagi!” terang Deni.

Sedangkan Hadrah yang biasanya duduk di bangku sutradara, kali ini bertindak sebagai direktur kreatif keseluruhan aspek film. Ia juga terlibat dalam pencarian lokasi dan mensupervisi transformasi para karakter.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X