Mengapa Davos, Kota Kecil di Pegunungan Alpen Swiss Ini Dipilih sebagai Tuan Rumah WEF 2026?

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Minggu, 25 Januari 2026 | 19:06 WIB
Davos, kota kecil berpenduduk 10.000 di Pegunungan Alpen, Swiss, yang setiap tahun menjadi tuan rumah World Economic Forum. (Weforum.org)
Davos, kota kecil berpenduduk 10.000 di Pegunungan Alpen, Swiss, yang setiap tahun menjadi tuan rumah World Economic Forum. (Weforum.org)

PejuangKantoran.comWorld Economic Forum (WEF), lembaga think tank yang menggelar pertemuan tahunan di Davos, Swiss, sejak 1971, rampung digelar pada 19-23 Januari 2026 lalu. 

Setiap awal tahun, nama kota kecil berpenduduk sekitar 10.000 orang itu memang selalu muncul di berbagai pemberitaan internasional. Sebagai tuan rumah, kota di Pegunungan Alpen, Swiss, itu menjadi ajang pertemuan lebih dari 2.500 pemimpin dunia.

Mereka bukan hanya datang dari pemerintahan, tetapi juga bisnis, akademisi, hingga wakil generasi muda, yang bertemu untuk membahas tantangan global.

Baca Juga: 5 Hal yang Perlu Diketahui tentang World Economic Forum (WEF) Davos 2026

Namun, di balik sorotan media tersebut, Davos sebenarnya memiliki sejarah panjang tentang budaya, inovasi, dan kerja sama yang jarang diketahui banyak orang.

Kota tertinggi di Eropa

Secara geografis, Davos berada di ketinggian yang luar biasa. Kota ini terletak 1.560 meter di atas permukaan laut, menjadikannya kota tertinggi di Pegunungan Alpen, bahkan sering disebut sebagai kota tertinggi di Eropa.

Dengan populasi lebih dari 10.000 penduduk, Davos bukan hanya destinasi konferensi elite, tetapi juga kota ski yang hidup sepanjang tahun. Sejak 1923, Davos rutin menjadi tuan rumah Spengler Cup, yang dikenal sebagai turnamen hoki es tertua di dunia.

Lokasi Davos yang tinggi dan udara pegunungannya yang kering sangat memengaruhi sejarah kota ini. Pada abad ke-19, sebelum antibiotik ditemukan, Davos dikenal sebagai tempat sanatorium bagi penderita tuberkulosis. Udara bersih Alpen dipercaya dapat membantu proses pemulihan pasien.

Pengalaman inilah yang kemudian menginspirasi Thomas Mann, peraih Nobel Sastra, untuk menulis novel terkenalnya Der Zauberberg atau The Magic Mountain, yang berlatar di Davos.

Baca Juga: Berkas yang Diperlukan sebagai Syarat Mendaftar Beasiswa LPDP 2026 untuk Semua Bidang

Dalam refleksinya, Mann menyebut bahwa karyanya tersebut menangkap semangat hidup, meski lahir dari pengalaman dekat dengan kematian.

Davos juga punya hubungan unik dengan dunia sastra dan olahraga. Arthur Conan Doyle, pencipta tokoh Sherlock Holmes, pernah tinggal di Davos bersama istrinya yang menderita tuberkulosis.

Doyle ternyata bukan hanya beristirahat di kota tersebut, tetapi juga menjadi salah satu pelopor ski Alpen bagi warga Inggris. Pada tahun 1894, ia bahkan melakukan perjalanan ski dari Davos ke Arosa melintasi pegunungan, dengan perlengkapan sederhana dan pakaian tweed.

Ini boleh dibilang aksi nekat, jika dilihat dari standar saat ini. Meski begitu, kontribusinya jelas ikut membantu membentuk identitas Davos sebagai kota ski ternama.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: weforum.org

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X