PejuangKantoran.com - Peran perempuan di dunia sains dan bisnis belum sepenuhnya mendapat pengakuan yang setara. Karena itu, inisiatif seperti L’Oréal Foundation–UNESCO Women in Science International Awards menjadi sangat penting.
Program ini tidak hanya memberi penghargaan, tetapi juga membuka jalan bagi perempuan di bidang STEM agar dapat berkembang tanpa hambatan.
Di balik program tersebut, ada sosok Alexandra Palt, CEO L’Oréal Foundation sekaligus Chief Corporate Responsibility Officer L’Oréal, yang sejak awal kariernya konsisten membawa misi perubahan sosial.
Baca Juga: Gangguan Internet Besar-besaran di Indonesia, IndiHome dan Telkomsel Kembali Normal
Padahal, latar belakang perempuan yang bergabung di L’Oréal tahun 2012 ini bukan dari dunia sains. Alexandra adalah lulusan hukum dari University of Vienna, Austria, dengan fokus pada hak asasi manusia. Ia bahkan sempat bekerja di Amnesty International di Jerman.
Latar belakang itulah yang membentuk nilai-nilai pada dirinya. Keinginan untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik adalah benang merah dari seluruh perjalanan kariernya.
Di L’Oréal, Alexandra dikenal sebagai sosok yang mendorong lahirnya program keberlanjutan pertama perusahaan. Banyak tantangan yang ia hadapi saat meluncurkan berbagai inisiatif ini.
Namun menurutnya, tantangan yang ia hadapi tidak sebanding dengan realitas yang dialami banyak perempuan lain yang ia temui melalui Women’s Fund, sebuah inisiatif yang mendukung perempuan dalam situasi sulit.
“Menurut saya, yang terpenting tetap menjadi manusia yang punya rasa kemanusiaan, sesulit apa pun kondisinya. Itu tantangannya, tapi itu juga yang jadi prinsip hidup saya.
Baca Juga: Lekat dengan Budaya Batak, Kok Oki Rengga Luwes Berbahasa Jawa di 'Sebelum Dijemput Nenek'?
"Jadi, kalau melihat perjuangan perempuan lain dan bagaimana mereka berhasil melewatinya, rasanya tantangan yang saya hadapi tidak ada apa-apanya untuk dibahas," kilahnya.
Begitu juga dengan keberanian yang dibutuhkan dalam dunia bisnis. Alexandra bilang, banyak orang menganggapnya berani bersuara, meskipun tidak nyaman. Tetapi ia merasa, banyak perempuan lain yang jauh lebih berani.
“Saya tahu banyak orang yang jauh lebih berani daripada saya, para perempuan pengungsi, serta ibu-ibu yang berhasil membesarkan anak-anak mereka di lingkungan kota yang keras dan mendidik mereka menjadi orang-orang yang baik hati,” ujarnya.
Pengalaman bertemu langsung dengan para perempuan dengan berbagai kesulitan nyata itu membuatnya semakin sadar akan privilese yang ia miliki, dan tanggung jawab yang menyertainya.
Artikel Terkait
Yang Terjadi pada Tubuh saat Kamu Nggak Suka Pekerjaan yang Kamu Jalani (Sampai Jadi Stres!)
Rupiah Menguat, Selamat dari Tekanan Level Rp 17.000 saat BI Rate Tetap
Satu dari Empat Pekerja di Indonesia Bekerja Lebih dari 49 Jam per Minggu
Perubahan Kecil yang Diam-diam Bisa Membuat Hidup Lebih Panjang
8 Panduan Praktis Bagi Weekend Runner Agar Tetap Aman dan Sehat Dalam Latihan Lari
Mau Career Hedging? Berikut Contoh Email Pemberitahuan Kepada Atasan atau HR untuk Itu
Gangguan Internet Besar-besaran di Indonesia, IndiHome dan Telkomsel Kembali Normal