Ikut Maraton Lebih Jadi Pencapaian Anak Muda ketimbang Beli Barang Mewah

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Minggu, 8 Februari 2026 | 17:00 WIB
Menjalani aktivitas kebugaran menjadi pilihan yang lebih terjangkau bagi anak muda. (Unsplash/Miguel A Amutio)
Menjalani aktivitas kebugaran menjadi pilihan yang lebih terjangkau bagi anak muda. (Unsplash/Miguel A Amutio)

PejuangKantoran.com - Dulu tas mewah seperti Hermès Birkin atau produk dari Gucci dan Louis Vuitton dianggap sebagai simbol prestise. Namun sekarang, sepatu lari dan berhasil masuk garis finis maraton justru menjadi kebanggaan baru.

Fenomena ini menunjukkan perubahan cara pandang anak muda terhadap makna sukses, gaya hidup, dan pencapaian personal.

Gen Z, yang saat ini berada pada fase transisi dari dunia pendidikan ke dunia kerja, menghadapi tantangan ekonomi yang tidak ringan. Pandemi COVID-19 ternyata berdampak jangka panjang terhadap pasar kerja. Cari kerja susah, minta kenaikan gaji juga sulit.

Baca Juga: 11 Kebiasaan Buruk yang Dilakukan Terus-menerus dan Bisa Memicu Gagal Ginjal Kronis

Kondisi ini membuat mereka belum memiliki daya beli yang cukup untuk barang-barang mewah bernilai tinggi. Akibatnya, minat terhadap produk luxury pun cenderung menurun.

Di sisi lain, aktivitas kebugaran seperti lari menjadi pilihan yang lebih realistis dan terjangkau. Berlari tidak membutuhkan biaya besar, cukup sepatu olahraga dan komitmen waktu.

Lebih dari itu, olahraga ini menawarkan sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh barang mewah, yaitu rasa pencapaian dan komunitas. Klub lari dan pusat kebugaran kini menjadi ruang sosial baru bagi Gen Z, terutama setelah pandemi bikin anak muda kesepian.

Fenomena ini terlihat jelas di ajang New York City Marathon 2025, yang mencatat jumlah peserta terbanyak sepanjang sejarah. Kelompok usia 25 hingga 29 tahun menjadi peserta terbesar, hampir seperempat dari total pelari.

Angka ini meningkat tajam dibandingkan beberapa tahun sebelumnya dan menunjukkan bahwa maraton kini bukan cuma olahraga, tetapi juga simbol status baru di kalangan anak muda perkotaan.

Merek-merek kebugaran pun cepat membaca peluang ini. Brand sepatu olahraga, pakaian yoga, hingga pusat kebugaran premium berhasil memposisikan diri sebagai bagian dari gaya hidup prestisius versi baru.

Baca Juga: Maluku Barat Daya, Kawasan Konservasi yang Bisa Jadi Jawaban Lelahnya Pekerja Kota

Punya matras yoga dari merek tertentu atau menjadi anggota gym eksklusif kini dipandang sama bergengsinya dengan memiliki barang mewah.

Ini menandakan bahwa prestise tidak lagi selalu identik dengan harga yang sangat mahal, tetapi juga dengan komitmen pada kesehatan dan disiplin diri.

Mendingan barang KW

Sementara itu, industri barang mewah justru mengalami perlambatan. Penurunan belanja konsumen dan berkurangnya jumlah pelanggan menunjukkan bahwa daya tarik luxury mulai melemah, terutama di kalangan Gen Z.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Fortune

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X