PejuangKantoran.com - Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan setelah sejumlah pejabat dan analis menyampaikan pandangan berbeda mengenai arah pergerakannya. Di tengah tekanan pasar global, rupiah sempat berada di kisaran Rp17.600 per dolar AS dan bahkan diperkirakan berpotensi melemah lebih jauh jika tanpa intervensi kebijakan.
Tenaga Ahli Utama Bakom, Fithra Faisal, menyebut bahwa tanpa intervensi dari otoritas moneter dan fiskal, nilai tukar rupiah berpotensi menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Ia menilai stabilisasi yang dilakukan saat ini berperan penting dalam menahan laju pelemahan mata uang domestik di tengah tekanan eksternal maupun arus modal keluar.
Pernyataan tersebut sejalan dengan langkah Bank Indonesia (BI) yang secara konsisten melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas rupiah. BI juga terus memperkuat kebijakan melalui pengaturan likuiditas, operasi pasar, hingga koordinasi dengan pemerintah dalam menjaga kepercayaan investor.
Baca Juga: 6 Bentuk Trust yang Lazim Diterapkan di Kantor. Perhatikan Cara Membangunnya!
Sejumlah laporan menyebut bahwa intervensi ini menjadi faktor penting yang mencegah rupiah bergerak lebih dalam ke level yang lebih lemah. Tanpa langkah tersebut, tekanan pasar dinilai dapat mendorong pelemahan lebih cepat akibat sentimen global dan ketidakpastian ekonomi.
Pemerintah: fundamental ekonomi masih solid
Di sisi lain, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menanggapi pelemahan rupiah dengan menegaskan bahwa kondisi tersebut masih dalam batas yang dapat dikelola. Ia menyebut bahwa pergerakan rupiah merupakan bagian dari dinamika pasar, sementara fundamental ekonomi Indonesia tetap relatif kuat.
Pemerintah bersama Bank Indonesia, kata dia, terus memantau perkembangan nilai tukar dan siap mengambil langkah tambahan bila diperlukan untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional. Ia juga menekankan bahwa fluktuasi jangka pendek tidak perlu disikapi secara berlebihan selama koordinasi kebijakan tetap berjalan.
Baca Juga: Karyawan Meta Protes, Perusahaan Memasang Teknologi Pelacakan Pergerakan Mouse di Laptop Mereka
Tekanan eksternal masih membayangi
Meski demikian, tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi berbagai faktor eksternal, seperti suku bunga tinggi di Amerika Serikat, ketegangan geopolitik, serta arus keluar modal dari pasar negara berkembang. Kondisi ini membuat rupiah berada dalam posisi rentan terhadap volatilitas global.
Sejumlah analis memperkirakan bahwa tanpa dukungan intervensi yang kuat, rupiah bisa bergerak menuju level Rp18.000 per dolar AS dalam skenario terburuk. Namun dengan kebijakan stabilisasi yang berjalan saat ini, pelemahan diharapkan masih dapat dikendalikan.
Artikel Terkait
Hampir 90% Perempuan Resign dari Perusahaan Teknologi dalam 10 Tahun setelah Bergabung
Airbnb Gunakan AI untuk Menulis 60% Kode Baru di Perusahaan, dan Ini Sebagian Manfaatnya untuk Bisnis
Generasi Muda Mulai Ubah Prioritas Pernikahan, dari Pesta Besar ke Kesiapan Rumah Tangga
Pengangguran Tembus 7,24 Juta, Wamenaker Minta Anak Muda Buka Lapangan Kerja Sendiri
Gaji Tinggi, tetapi Mengapa Pekerja Singapura Termasuk yang Paling Tidak Bahagia di Asia?
Jeng, Jeeeng.... Dua Lipa Mengajukan Gugatan Senilai 15 Juta Dollar kepada Samsung
LinkedIn berencana untuk melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap 5% stafnya
Jurusan Teknik Kini Resmi Jadi “Rekayasa”, Ini Alasan Kemendiktisaintek Mengubah Namanya
Karyawan Meta Protes, Perusahaan Memasang Teknologi Pelacakan Pergerakan Mouse di Laptop Mereka
Begini Dampak Melemahnya Nilai Rupiah terhadap Kehidupan Kelas Menengah seperti Kita