Menurutnya, karena Mas Acut berada di pihak sutradara, ia berusaha menemukan jalan tengahnya. Jika tidak, pengambilan gambar tentu tidak bisa segera dilakukan.
“Saya bilang ke Mbak Key dan Mas Acut, oke saya ikuti tapi pacing-nya saya yang nentuin. Timing-nya kapan saya pindah, ngomong, titik-titiknya, itu saya yang menentukan.
"Mungkin itu (yang bikin syutingnya jadi) lama. Tapi mudah-mudahan bisa dimainin di editing!” tambahnya.
Baca Juga: Stella Christie: Manfaatkan AI dengan Bijak Agar Tidak Kalah dari Teknologi
Fedi juga merasakan pentingnya berdiskusi intens dengan para kreator. Tidak hanya pada sutradara, ia juga sempat mengajukan keberatan-keberatannya saat membaca skenario 1 Imam 2 Makmum dari penulisnya, Ratih Kumala.
“Saya sampaikan, ‘Mbak, kok saya nggak sreg ya, sama dialognya?’ Karena saya memang tipe yang menganggap diksi itu penting. Berubah diksi, bisa berubah arti buat saya.
“Itu sebabnya diskusi penting. Karena memang di satu sisi, penulis skenario atau sutradara punya visi. Tetapi, aktor pun harus menemukan titik masuk akalnya di mana, karena bagaimanapun juga semua ini buat kebaikan film Indonesia!” pungkasnya. (Syanne Susita)