Hasilnya? Ada lebih dari 1,7 juta video dengan tagar #Labubu di TikTok. Edisi terbatas, seperti Rainbow Labubu, bahkan pernah terjual lebih dari Rp2,4 miliar di lelang!
Bukan cuma soal jualan, tetapi ini juga soal pengalaman.
Toko Pop Mart di New York, Paris, sampai Shanghai penuh dengan anak muda yang bukan hanya beli, tetapi juga bertukar figurine, membuat konten, bahkan berburu varian langka.
Ini mirip dengan budaya sneaker.
Baca Juga: Wamenaker Immanuel Ebenezer Ditangkap KPK, Puluhan Mobil, Motor Mewah, dan Uang Tunai Disita
Dari mainan ke komunitas
Fenomena Labubu ini bukan kasus tunggal.
Banyak brand China baru yang sukses bukan karena harga murah, tetapi karena mampu membangun ikatan emosional dengan konsumennya.
Xiaomi awalnya cuma dikenal sebagai smartphone murah, tetapi sekarang sudah jadi ekosistem gaya hidup. Mulai dari smartwatch, TV, sampai mobil listrik.
Suksesnya karena komunitas penggemar yang aktif memberikan masukan dan merasa ikut memiliki brand.
Miniso juga viral dengan koleksi kolaborasi bersama Sanrio, Marvel, sampai Coca-Cola. Apalagi toko mereka didesain seperti arena “berburu harta karun” yang membuat orang betah.
Apa yang bisa dipelajari?
Banyak brand dari Barat yang mengandalkan storytelling atau iklan besar.
Namun, Pop Mart dan kawan-kawannya menunjukkan bahwa kunci sukses saat ini ada di komunitas. Mereka membuat konsumen merasa menjadi bagian dari cerita, bukan sekadar pembeli.
Contohnya Labubu, yang bukan cuma mainan lucu yang sedang tren. Ini jadi bukti nyata kalau masa depan brand global ada di emosi, desain unik, dan komunitas.