Pejuangkantoran.com – Memberikan hadiah itu adalah budaya yang baik. Tak hanya saat ulang tahun, namun hadiah juga bisa diberikan kepada orang lain (entah itu pasangan, anak, saudara, orang tua, kolega, dan sebagainya) tanpa harus disertai alasan-alasan khusus.
Memberikan hadiah itu pada dasarnya adalah salah satu ujud rasa cinta, rasa sayang, rasa perhatian, atau rasa hormat kita kepada orang lain. Yang penting bahwa hadiah diberikan dengan Ikhlas, bermanfaat, membahagiakan penerima, dan tidak membereratkan pemberi atau penerima.
Dalam konsep love language yang diperkenalkan oleh Dr. Gary Chapman, seorang seorang penulis sekaligus konselor pernikahan, makna utama hadiah terletak pada pikiran dan perhatian di baliknya, bukan pada harga barangnya.
Dalam psikologi hubungan, hadiah sering berfungsi sebagai simbol perhatian, komitmen, ingatan bersama, dan kasih sayang.
Hadiah, umumnya dalan bentuk barang. Meskipun begitu, yang penting adalah perhatiannya bukan barangnya.
Baca Juga: Jangan Ragu Kasih Hadiah Cokelat ke Pasangan Saat Valentine's Day Asal Cokelat Hitam Ya! Ini Alasannya!
Menariknya, berbagai macam hadiah barang itu secara umum bisa diasosiasikan dengan hal-hal tertentu, seperti berikut ini:
- Bunga mawar merah
Makna: Cinta romantis, gairah, dan komitmen.
- Cokelat
Makna: Kasih sayang, perhatian, dan keinginan membuat pasangan bahagia.
- Bunga tulip
Makna: Cinta yang sempurna dan tulus.
- Perhiasan (cincin, kalung, gelang)
Makna: Komitmen jangka panjang, penghargaan, dan nilai hubungan yang tinggi.
- Cincin
Makna: Kesetiaan, ikatan, dan janji masa depan bersama.
- Jam tangan
Makna: Harapan untuk menghabiskan waktu bersama dan menghargai waktu yang telah dilalui.
- Foto berbingkai
Makna: Kenangan bersama dan penghargaan terhadap perjalanan hubungan.
- Album foto atau scrapbook
Makna: Mengabadikan cerita dan pengalaman bersama.