Belibur dengan Paylater Bisa Mengganggu Budget Bulanan
Salah satu risiko terbesar menggunakan paylater untuk liburan adalah pengeluaran setelah perjalanan.
Liburan mungkin hanya berlangsung tiga atau empat hari, tetapi cicilannya bisa berlangsung beberapa bulan. Jika pada periode yang sama terdapat kebutuhan lain, seperti biaya kos, tagihan rutin, kebutuhan keluarga, atau cicilan lainnya, kondisi keuangan bisa menjadi lebih sempit.
Karena itu, sebelum menggunakan paylater untuk traveling, jangan hanya melihat berapa cicilan per bulan. Hitung juga total pembayaran, biaya atau bunga yang berlaku, serta apakah cicilan tersebut masih aman setelah seluruh kebutuhan rutin dibayar.
Baca Juga: 10 Kesalahan yang Harus Dihindari Saat Travelling agar Liburan Tetap Nyaman dan Bebas Masalah
Jangan Sampai FOMO Mengalahkan Budget
Media sosial membuat traveling terlihat semakin mudah dan menarik. Destinasi viral, hotel estetik, restoran populer, hingga pengalaman unik bisa menciptakan dorongan untuk segera berangkat.
Padahal, liburan yang sehat secara finansial bukan tentang seberapa mahal destinasi yang dikunjungi, tetapi apakah perjalanan tersebut sesuai dengan kemampuan keuangan.
Jika harus menggunakan paylater, pastikan keputusan tersebut sudah masuk dalam perencanaan keuangan, bukan sekadar respons terhadap FOMO.
Sebelum Traveling, Coba Tanyakan 3 Hal Ini
- Apakah saya benar-benar membutuhkan perjalanan ini atau hanya ikut tren?
- Berapa total biaya liburan, termasuk transportasi, makan, dan aktivitas?
- Setelah pulang, apakah penghasilan saya masih cukup untuk membayar cicilan dan kebutuhan rutin?
Jika jawabannya masih membuat ragu, mungkin lebih baik menunda liburan dan menabung terlebih dahulu.
Pada akhirnya, paylater bukan otomatis buruk. Yang perlu diwaspadai adalah ketika kemudahan “bayar belakangan” membuat kita lupa bahwa tagihannya tetap datang setelah liburan selesai.
Baca Juga: Pariwisata Indonesia Terdampak Konflik di Timur Tengah, Manfaatkan Libur Lebaran dan Revenge Travel