Slow fashion
Keberlanjutan dalam fashion menjadi lebih relevan dengan semakin populernya budaya hemat. Daripada menyebabkan pencemaran sungai atau tempat pembuangan sampah yang penuh dengan tekstil, pakaian bekas bisa dijual lagi pada orang yang berbeda untuk memperpanjang umur simpannya.
Ideologi slow fashion ini juga mencegah pembelian barang baru, mengurangi jumlah energi dan sumber daya yang dibutuhkan untuk mempertahankan budaya fast fashion.
Pendekatan ini relate banget dengan Generasi Z. Buat mereka, thrifting itu masalah gaya hidup. Thrifting menjadi simbol keinginan untuk independen, menyelamatkan bumi, menghemat uang, dan tentunya menghasilkan uang.
Siapa sih, yang nggak merasa menang banyak kalau bisa keliatan keren dengan baju yang harganya cuma Rp50.000?
Di luar urusan ramah lingkungan, banyak toko konsinyasi dan toko barang bekas yang ternyata menampung donasi pakaian dari badan-badan amal dan organisasi.
Menurut True Activist, di Amerika hampir setiap hari ada orang yang mendonasikan pakaian di badan-badan amal ini.
Kalaupun pembeli sudah membawa pulang beberapa pakaian tetapi ternyata ada yang tidak muat, kerugian yang didapat tidak banyak. Mereka bahkan bisa mendonasikannya lagi di toko tempat mereka membelinya.
Oleh karena berbagai alasan di atas, orang tak malu-malu lagi berburu baju bekas di toko ataupun pasar. Semakin banyak pula pelaku bisnis baju bekas.
Baca Juga: 6 Pasangan Selebriti Muda yang Pacaran Gara-gara Sering Main Film Bareng
Menurut First Research, perputaran bisnis baju bekas di Amerika menghasilkan pendapatan tahunan sekitar 17 miliar dollar, yang diperoleh dari lebih 20.000 toko.
Association of Resale Professionals melaporkan, Goodwill Industries memperoleh pendapatan 5,37 miliar dollar melalui penjualan ritel di lebih dari 2.000 toko baju bekas nirlaba dan penjualan online pada tahun 2014.
Di Indonesia, banyak penjual baju bekas impor yang merupakan pemilik UMKM. Sayangnya, karena meningkatnya tren thrifting, sekarang baju-baju bekas pun ditawarkan dengan harga ratusan ribu. Bahkan, kabarnya, ada yang sampai jutaan.
Karea itu, keputusan untuk tetap membeli baju bekas, atau kembali ke baju baru buatan lokal, kembali pada kamu para pejuang kantoran!