Garin Nugroho Dianugerahi Gelar Officier des Arts et des Lettres: Penghargaan Tinggi Prancis untuk Maestro Sinema Indonesia

photo author
Christina A.S, Pejuang Kantoran
- Selasa, 2 Desember 2025 | 16:35 WIB
Garin Nugroho dan Duta Besar Prancis untuk Indonesia (Dok. IFI)
Garin Nugroho dan Duta Besar Prancis untuk Indonesia (Dok. IFI)

PejuangKantoran.com -  Garin Nugroho menerima gelar Officier dans l’Ordre des Arts et des Lettres, salah satu penghargaan kebudayaan tertinggi Prancis.

Penghargaan bergengsi ini diserahkan langsung oleh Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Timor-Leste, dan ASEAN, Y.M. Fabien Penone, dalam gelaran JAFF 2025 French Night di IFI Yogyakarta pada 1 Desember 2025.

 

Orde Seni dan Sastra, yang telah ada sejak 1957, diberikan kepada para tokoh dengan kontribusi luar biasa dalam kebudayaan. Garin sebelumnya menerima gelar Chevalier pada 2015, dan kini dinaikkan menjadi Officier, suatu bentuk pengakuan mendalam atas perjalanan artistik dan pengaruh internasionalnya dalam dunia sinema.

Jejak Panjang Sang Visioner di Pentas Sinema Dunia

Sejak debutnya lewat Cinta dalam Sepotong Roti (1990), Garin dikenal sebagai sutradara yang tak henti bereksperimen dan memperluas batas bahasa sinema. Karyanya yang ikonik, Daun di Atas Bantal (1998), mencatat sejarah sebagai film Indonesia pertama yang masuk seleksi Festival Film Cannes (Un Certain Regard). Karya tersebut membuka pintu bagi sinema Indonesia untuk lebih dikenal di Prancis dan panggung internasional.

Baca Juga: Aceh Porak-Poranda Diterjang Banjir Bandang: Empat Kampung Hilang, Akses Darat Terputus

Hubungan Garin dengan dunia sinema Prancis terus menguat. Pada 2018, Memories of My Body meraih Montgolfière d’Or di Festival des 3 Continents, Nantes. Pada 2023, ia kembali diundang ke Paris untuk menampilkan konser sinematik Setan Jawa di Musée du Quai Branly – Jacques Chirac, sebuah pertunjukan kolosal yang memadukan orkestra simfoni Prancis dengan gamelan Indonesia.

Keterhubungan itu berlanjut: pada 10 Desember 2025, Daun di Atas Bantal akan membuka program “Panorama Sinema Indonesia” di Cinémathèque française—pameran retrospektif besar yang merangkum perkembangan sinema Indonesia selama beberapa dekade. Sebuah kehormatan yang menegaskan posisi Garin sebagai jembatan budaya antara Indonesia dan Prancis.

Film terbarunya, Samsara (2024), memperlihatkan keberanian Garin dalam memadukan sinema, musik langsung, tradisi Bali, hingga pendekatan kontemporer. Film ini mendapat respon meriah di tanah air dan menyabet empat Piala Citra 2024: Sutradara Terbaik, Sinematografi Terbaik, Musik Terbaik, dan Desain Produksi Terbaik.

Arsitek Kolaborasi Indonesia–Prancis

Di luar film, Garin memainkan peran strategis dalam membangun hubungan kebudayaan Indonesia–Prancis. Sebagai pendiri Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF), ia membantu membentuk salah satu festival film independen paling berpengaruh di Asia Tenggara. Peluncuran JAFF Market pada 2024 menandai langkah penting bagi pengembangan ekosistem industri film Indonesia.

Baca Juga: Harga BBM 1 Desember 2025: Pertamina, Shell, BP, hingga Vivo Kompak Naik

Kolaborasi Garin dengan Prancis juga melahirkan inisiatif seperti Indonesia–France Film Lab, yang mempertemukan sineas muda Indonesia dengan para profesional sinema Prancis dalam program mentoring intensif.

Sejak 2023, melalui perannya sebagai Head of Cultural Programming di GIK UGM, Garin terus mengembangkan proyek lintas disiplin yang menghubungkan budaya, pendidikan, dan publik sering kali bekerja sama dengan Kedutaan Besar Prancis untuk membuka peluang kolaborasi baru.

“Karya sinematik Garin Nugroho serta perannya sebagai pemimpin dalam lanskap budaya Indonesia, telah menjadikannya salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sinema Asia Tenggara. Berkat keterlibatannya yang mendalam dengan Prancis, ia telah memperkuat hubungan antara komunitas film kita dan memperkuat kerja sama budaya antara kedua negara kita," ungkap Duta Besar Prancis, Fabien Penone.

Penganugerahan gelar Officier des Arts et des Lettres kepada Garin Nugroho bukan hanya pengakuan atas pencapaian pribadi, tetapi juga simbol penghormatan terhadap kemajuan sinema Indonesia di mata dunia. Garin telah memperluas cakrawala sinema nasional, menginspirasi generasi baru, dan memupuk dialog budaya yang berkelanjutan antara Indonesia dan Prancis.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Christina A.S

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Luvita Ho, Saat Dessert Menjadi Medium Cerita

Jumat, 1 Mei 2026 | 11:15 WIB
X