PejuangKantoran.com - Di industri film, Nazira C. Noer dikenal sebagai film publicist yang menjadi kunci kesuksesan banyak film box office. Ia menggencarkan berbagai strategi pemasaran dan promosi sehingga film-film Indonesia bisa menarik banyak penonton.
Namun, di penghujung tahun 2025, keterlibatannya di film tidak lagi di balik layar. Perempuan kelahiran Bogor, 7 Juli 1979 ini ikut berakting dalam beberapa film besar seperti Pangku, Agak Laen: Menyala Pantiku (sebagai cameo), dan yang sebentar lagi rilis, Suka Duka Tawa.
“Yang mengajak aku main ada beberapa. Hanya, bukan sombong, tapi karena aku sendiri juga ada Poplicist, publicist (agensi) film marketing. Waktunya terbatas. Otomatis, aku picky dengan bagaimana aku memberikan komitmen hari-hariku buat syuting.
Baca Juga: Pelestari Hutan Leuser Farwiza Farhan Tak Lelah Menyuarakan Kerusakan Alam dan Dampak Deforestasi
"Karena tiap hari ada presscon yang merupakan kerjaan aku nomor satu. Jadi, ada beberapa tawaran yang aku rasa nggak diambil dulu, deh!” ujar Nazira, saat ditemui di Kyabin Studios.
Sebenarnya, berakting di depan layar bukan hal baru. Sebelumnya, ia sempat berakting di beberapa film seperti Gundala dan Noktah Merah Perkawinan. Namun, ada alasan khusus kenapa akhirnya Nazira mau berakting di Pangku dan Suka Duka Tawa.
“Kenapa aku ambil beberapa tawaran akting di Pangku dan Suka Duka Tawa, ini bahwasanya tidak sengaja. Kedua film itu merupakan debut layar lebar sahabat-sahabatku (Reza Rahadian dan Aco Tenri)!” jelas aktris yang akrab disapa Bubu ini.
Mewarisi nama besar kedua orang tuanya yang pasangan sutradara dan aktris terkenal: Arifin C. Noer dan Jajang C. Noer, Bubu mengaku justru nama belakangnya tidak membuat dirinya menjadi istimewa.
Apa pun yang ia kerjakan selama berkecimpung di industri film tidak selalu mudah dan mulus.
“Aku sangat tidak ke-trigger atau sensitif dengan komentar nepo baby karena aku sama sekali jauh dari situ. Yang ada, nama belakang yang besar di industri perfilman, Arifin C. Noer dan Jajang C. Noer, bukan memudahkan aku. Malah menyusahkan dan membebani pikiranku sendiri!” tukasnya.
Baca Juga: Pantesan Sangar, Gubernur Aceh Muzakir Manaf Ternyata Mantan Panglima GAM dan Pengawal Khadafi
Kini walau ia juga bekerja di industri film, dunia yang sama yang digeluti orang tuanya, lulusan jurusan penyutradaraan dari IKJ ini memilih bekerja sebagai film publicist.
Padahal dengan latar belakang pendidikannya, Bubu bisa merintis karir sebagai sutradara, mengikuti jejak sang ayah. Ia pun sudah pernah membuat film dokumenter berjudul Working Girls.
“Harusnya jadi sutradara, tapi malah jadi publisis film. Aku suka banget film marketing, menyuarakan sesuatu yang bagus. Ada cerita menarik, aku pasti cerita ke semua.
"Naluri seperti itu yang membuat aku passionate jadi film publicist dan ternyata sangat dibutuhkan. Karena di industri (film), pelakunya belum banyak!" pungkasnya.
Artikel Terkait
Pandawara Group Ajak Rakyat Urunan Beli Hutan. Secara Global Banyak Gerakan Lain dengan Semangat yang Sama!
Ini yang Dimaksud 'Go the Extra Mile', Kebalikan dari 'Bare Minimum' di Dunia Kerja
Banyak Karyawan sedang Makan Siang di Lantai Atas saat Kebakaran Gedung Terra Drone Terjadi
10 Langkah yang Harus Dilakukan Oleh Pimpinan Ketika Ada Anggota Tim yang Silent Rebellion
4 Model Rambut Pria yang Bakal Ngetren di Tahun 2026 dan Cocok Buat Pekerja Kantoran
Koperasi Merah Putih Tukangkayu di Banyuwangi Dikelola Profesional namun Berbasis Gotong-royong
Masih Ngeles, Begini Jawaban Bupati Aceh Selatan Mengapa Tetap Umrah di Tengah Bencana