10 Langkah yang Harus Dilakukan Oleh Pimpinan Ketika Ada Anggota Tim yang Silent Rebellion

photo author
Sigit Triwahyu, Pejuang Kantoran
- Rabu, 10 Desember 2025 | 11:40 WIB
Sebagai pimpinan, jangan abai ketika ada anggota tim yang teridentifkasi melakukan silent rebellion. (Pejuangkantoran.com/Made with Google AI)
Sebagai pimpinan, jangan abai ketika ada anggota tim yang teridentifkasi melakukan silent rebellion. (Pejuangkantoran.com/Made with Google AI)

Pejuangkantoran.com – Jangan abaikan ketika ada anggota tim kamu, menyetorkan tugas selalu mepet waktu, meskipun tugasnya sesuai dengan orderan yang menunjukkan kompetensi dia.

Perilaku seperti ini jika terjadi berulang-ulang menunjukkan perilaku bekerja minimalis. Bekerja sebagai minimalis ini bisa menjadi salah satu indikasi bahwa yang bersangkutan melakukan silent rebellion.

 Ini adalah bentuk perlawanan diam-diam terhadap aturan, tekanan, atau otoritas, tanpa konfrontasi langsung atau ekspresi protes yang terang-terangan.

Ini perilaku menolak yang dilakukan secara terselubung, pasif, tetap mengikuti perintah, namun tanpa inisiatif, dan di rapat bisanya tidak mau teribat.

Penyebabnya banyak hal, misal  merasa tidak didengar, atasan otoriter, beban kerja yang tidak adil, kurangnya transparansi dan komunikasi di kantor, kritikan dianggap sebagai pembangkangan, ide-ide baru selalu ditolak, SOP yang kaku, dan sebagainya.

Oleh karena itu, ketika ada anggota tim yang berperilaku silent rebellion, kamu sebagai pimpinan (manajer) wajib melakukan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Jangan langsung menegur atau memarahi

Ini kesalahan paling sering terjadi dan justru meperburuk situasi. Silent rebellion bukan masalah kinerja saja, ini masalah trust dan psikologis.

Baca Juga: Peringatan Buat Para Manajer Ketika Tim Mulai Pasif, Itu Tanda Ada Silent Rebellion. Simak 10 Hal Pemicunya!

2. Lakukan Early Diagnosis (Deteksi Cepat 5–10 menit)

Gunakan 3 pertanyaan netral, seperti:

  1. “Belakangan ini ada hambatan apa di pekerjaan kamu?”
  2. “Ada bagian mana yang paling bikin kamu pusing?”
  3. “Apa satu hal yang bisa membuat pekerjaan kamu lebih lancar minggu ini?”

Tujuan adalah memvalidasi apakah masalahnya memang workload, fairness, komunikasi, atau hubungan dengan atasan.

3. Bangun Safe Space Sementara

Karena orang merasa tidak didengar, beri jaminan bahwa percakapan kalian off the record. Gunakan nada tenang dan non-defensif. Fokus pada masa depan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Sigit Triwahyu

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X