PejuangKantoran.com - Setelah tampil sebagai Ratna Rengganis dalam film Hati Suhita, Anggika Bolsterli kembali hadir dalam film garapan sutradara Monty Tiwa, Dear Jo: Almost is Never Enough.
Berperan sebagai Ella, ibu pengganti (surrogate mother) bagi sahabatnya sendiri, Maura, Anggika Bolsterli mengaku bahwa hal itu bukanlah hal yang mudah.
Pertama, karena ia sendiri belum menikah, sehingga mempunyai anak dengan meminjam rahim perempuan lain -yang menjadi tema film ini- belum terbayang olehnya.
Baca Juga: Ngaku Fanboy-nya Sosok Boy, Angga Yunanda Merasa Ada Tekanan Memainkan Tokoh Utama Catatan Si Boy
Anggika Bolsterli mengaku harus meluangkan waktu khusus untuk melakukan riset tentang ibu pengganti, serta mencoba mencari tahu seperti apa detail penting yang membantu dirinya menyelami perasaan sebagai ibu pengganti.
Dari hasil risetnya, aktris keturunan Swiss dan Jawa Timur ini setidaknya mengetahui bahwa prosedur ibu pengganti sangat berbeda dengan bayi tabung.
“Bayi tabung itu kan, kita sendiri yang melahirkan dan dilakukan bersama suami kita. Hanya kemudian menjadi bayinya dengan ditaruh di tabung,” kata Anggika, saat konferensi pers Dear Jo: Almost is Never Enough di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (10/7/2023).
“Sedangkan surrogacy itu kan, (embrio) punya dua orang (suami istri), tetapi ditanamkan dengan meminjam rahim orang lain. Jadi, masih banyak perdebatan jika dilihat dari segi etika, hukum dan agama,” ujar aktris kelahiran Jakarta, 21 Juni 1995 ini.
Baca Juga: Mau Tanding Badminton di Turnamen Selebriti, Celine Evangelista Ngaku Nggak Hafal Kanan-Kiri
Selain itu, selama ia riset, hanya sedikit info yang menampilkan cerita perjuangan ibu pengganti yang dilakukan oleh dua sahabat seperti halnya perannya sebagai Ella yang rela meminjamkan rahimnya untuk sahabatnya sendiri, Maura (Salshabilla Adriani).
"Kalau di luar negeri, jarang ada yang menjadi surrogate mother-nya itu sahabatnya sendiri. Sempat aku lihat seorang ibu yang menjadi surrogate mother buat anaknya sendiri.
“Jadi, seorang nenek mengandung cucunya sendiri. Aku coba memahami kenapa, dan melihat kalau mereka mau melakukan itu atas dasar cinta. Jadi, aku memahami kenapa mereka melakukan itu,” ujarnya.
Namun, ia sadar bahwa prosedur ibu pengganti bukanlah hal yang legal di Indonesia. Itu sebabnya lewat film ini, topik surrogacy ini bisa membuka diskusi publik.
“Film kan soal membuka perbincangan dalam masyarakat. Entah itu tentang nostalgia, rasa haru, atau bisa apapun. Semoga film ini juga bisa menjadi perbincangan di luar sana, untuk diomongkan.
Baca Juga: Rey Mbayang Akui Kerap Beda Pendapat Soal Pengasuhan Anak dengan Dinda Hauw
Artikel Terkait
Ini Besaran Gaji yang Akan Diterima PPPK Part Time dan Cara Daftar di Situs Sistem Seleksi CASN
BTS Beberkan Pengalaman Di-bully pada Awal Karir, Apa Tips Agar Pulih dari Trauma Bullying?
Penelitian Sebut WFH Bikin Karyawan Kurang Produktif, Walaupun Karyawan Berkeras Sebaliknya
Tips untuk Kamu yang Ingin Kembali Bekerja Setelah Lama Jadi Ibu Rumah Tangga Biar Nggak Kagok!
Bagaimana Cara Menghadapi Bullying di Kantor? Perusahaan Juga Tak Boleh Tinggal Diam
Sekarang Bisa Beli Kacamata Pakai BPJS Kesehatan! Cara Klaimnya Mudah, Nilai Subsidi Cukup Besar