Tipe kedua belajar paling banyak dari kekecewaan yang mereka alami. Mereka cenderung menghindari hal-hal yang buruk, daripada mengejar hal-hal besar.
Seorang pembelajar sejati sangat baik dalam memilih hal yang paling buruk ketika setiap pilihan tidak optimal. Penelitian menunjukkan bahwa pembelajar tetap juga memiliki keuntungan ketika memecahkan masalah karena mereka lebih mungkin menyadari jika strategi mereka tidak berhasil. Mereka tahu ketika pemikiran mereka berada di jalur yang salah.
5. Berbeda bukan berarti lebih baik atau lebih buruk
Cara orang mendefinisikan kesuksesan saat ini sangatlah sempit, mengingat banyaknya permasalahan yang perlu dipecahkan untuk menjamin kelangsungan hidup.
Contohnya adalah supir taksi dan supir bus di London. Supir taksi disebut lebih “sukses” karena mampu mengingat lebih banyak jalan daripada supir bus.
Hal yang membuat mereka lebih sukses adalah jumlah waktu mereka bekerja. Setelah lebih dari setahun bekerja sebagai supir taksi, hipokampus (bagian di otak yang berfungsi mengingat informasi baru) mereka menjadi lebih besar.
Artinya, kamu dapat mengubah otak dalam situasi tertentu jika bekerja cukup keras.
Baca Juga: Makin Banyak Orang Kena Kanker di Usia Muda, Mungkinkah Ini Penyebabnya?
Di lain pihak, supir bus memang kalah dalam hal menghafal jalan, memperkirakan jarak antara tempat-tempat yang sudah dikenal, atau mengenali landmark.
Namun, ketika harus menerima informasi baru, seperti mengingat daftar kata, kemampuan supir bus lebih baik daripada supir taksi.
Pesan moralnya adalah ketika otak pengemudi taksi beradaptasi untuk menyimpan pengetahuan yang diperlukan agar berfungsi, ada dampak yang dapat diamati pada sistem memori lainnya.
Jadi, kamu tidak dapat secara obyektif memutuskan tipe otak mana yang lebih baik atau lebih buruk tanpa mempertimbangkan apa yang sedang kamu coba lakukan dengannya. (Elga Windasari)