bugar

Peringatan buat Kaum Rebahan: Kebiasaan Mager Bisa Membunuhmu lewat Serangan Jantung!

Rabu, 27 September 2023 | 16:58 WIB
Ilustrasi: Kebiasaan rebahan atau mager bisa menyebabkan masalah kesehatan seperti menumpuknya kolesterol dalam metabolisme, sehingga memicu serangan jantung. (Unsplash / Adrian Swancar)

PejuangKantoran.com - Serangan jantung atau penyakit jantung masih menjadi penyebab kematian tertinggi di muka Bumi.

Maka dari itulah, peringatan Hari Jantung Sedunia yang diperingati persis pada 29 September tiap tahunnya, termasuk pada edisi 2023, tetap membawa pesan ikhwal serangan jantung.

Serangan jantung pun di Indonesia menjadi pembunuh nomor satu.

Baca Juga: Kamis 28 September, Akan Ada Jalan Sehat dengan Rute Membentuk Jantung Manusia, Ikut Yuk!

"Serangan jantung atau penyakit jantung memang memiliki penyebab yang multifaktor," kata Ketua Pelaksana Kegiatan Hari Jantung Sedunia 2023 di Indonesia, dr. Bambang Dwiputra SpJP(K) di Jakarta, Selasa (26/9/2023), menjawab pertanyaan PejuangKantoran.com.

Kemudian dr. Bambang Dwiputra membeberkan, pemicu serangan jantung erat kaitannya dengan pola hidup seseorang.

Makanan yang terlalu banyak kandungan kolesterol, kurang berolahraga, merokok, minuman beralkohol, minuman tinggi kadar gula, stres adalah bagian dari multifaktor penyebab serangan jantung.

Di masa modern, kini, pola dan gaya hidup dengan dukungan digitalisasi juga menjadi penyebab serangan jantung.

"Istilahnya sedentary life," ucap dr. Bambang Dwiputra, saat jumpa pers di Hutan Kota by Plataran Jakarta, Selasa (26/9/2023), menjelang peringatan Hari Jantung Sedunia 2023.

Baca Juga: Salah Satu Penyebab Burnout: Ketika Pekerjaan Dianggap sebagai Identitas dan Prestise

Dalam kehidupan sehari-hari, sedentary life acap dikenal sebagai gaya hidup "rebahan" yang didominasi sikap bermalas-malasan, malas bergerak alias mager, dan kebiasaan santai berlebihan atawa leyeh-leyeh.

Bambang, selanjutnya, memberikan ilustrasi bahwa saat ini masyarakat modern terlayani kebutuhan hidupnya dalam genggaman gadget atau gawai.

"Orang tidak perlu bergerak untuk membeli makanan, misalnya, cukup pencet-pencet di ponsel," kata Bambang.

Gaya hidup rebahan macam itu, lama-kelamaan membuat orang kian malas berjalan kaki atau menggerakkan anggota badannya.

Alhasil, pembakaran kalori dalam tubuh tidak maksimal saat rebahan. Hal ini memicu  kolesterol, misalnya, menumpuk di dalam metabolisme tubuh.

Halaman:

Tags

Terkini