Pejuangkantoran.com – Sudah banyak sekali peringatan kepada pelari pemula yang pace-nya masih pace keong agar tidak gegabah memakai sepatu lari dengan plat karbon.
Risikonya cedera kaki. Salah satunya yang sering disebut adalah cedera shin splint.
Cedera shin splint ini nama medisnya medial tibial stress syndrome. Ini adalah asa nyeri di sepanjang tulang kering (tibia), yaitu tulang besar di bagian depan bawah kaki antara lutut dan pergelangan kaki.
Cedera ini kerap muncul pada pelari, pejalan cepat, atau orang yang baru meningkatkan intensitas latihan kaki secara tiba-tiba.
Gejala umum cedera ini yang bisa dirasakan adalah:
- Nyeri tumpul di bagian depan atau dalam tulang kering (kadang hanya satu sisi).
- Nyeri muncul saat mulai berolahraga, lalu berkurang saat pemanasan, tetapi muncul lagi setelahnya.
- Kadang ada sedikit bengkak di daerah yang nyeri.
Baca Juga: Bagi Pelari Pemula, Berikut Ini Ciri-Ciri Sepatu Easy Run dan Tips Untuk Memilihnya Agar Tidak Salah
Penyebab Shin Splint
Penyebab utama seseorang terkena cedera shin splint, ada banyak macam, tak hanya karena salah memakai sepatu saja, yaitu:
- Overuse (penggunaan berlebihan)
Otot, tendon, dan jaringan tulang di sekitar tulang kering mengalami tekanan berulang tanpa cukup waktu pemulihan. - Teknik atau postur lari yang salah
Misalnya mendarat dengan kaki terlalu keras di tumit atau ujung kaki. - Permukaan latihan keras atau tidak rata
Seperti aspal, beton, atau tanjakan curam. - Sepatu tidak sesuai atau sudah aus
Tidak memberikan bantalan dan dukungan lengkung kaki yang cukup. - Kelemahan atau ketidakseimbangan otot kaki dan betis
Menyebabkan distribusi beban tidak merata saat berjalan atau berlari.
Baca Juga: 5 Tips Latihan Aman Jelang Marathon, Biar Lari Sampai Finish Tanpa Cedera
Cara Menangani dan Pencegahan
Ketika kamu mengalami cedera shin splint, jangan dibiarkan atau salah dalam penanganan. Kalau dibiarkan, shin splint bisa berkembang menjadi stress fracture (retak tulang kecil) yang jauh lebih serius.
Ada penangana awal dengan metode RICE, yaitu:
- Rest (Istirahat): hentikan dulu aktivitas penyebab nyeri.
- Ice (Kompres dingin): kompres selama 15–20 menit, 2–3 kali sehari untuk mengurangi radang.
- Compression (Tekanan ringan): bisa menggunakan perban elastis.
- Elevation (Posisikan kaki lebih tinggi): untuk membantu mengurangi bengkak.
Meskipun kamu sudah menanganinya dengan baik di awal, namun jangan sampai cedera shin splint ini terjadi lagi. Untuk mencegah cedera ini terjadi lagi, maka lakukan sejumlah aktivitas yang bisa mencegah untuk jangka waktu yang panjang:
- Tingkatkan jarak dan intensitas latihan secara bertahap (10% per minggu).
- Gunakan sepatu dengan bantalan dan dukungan baik, ganti setelah sepatu tersebut menempuh jarak (mileage) kurang lebih 500–800 km.
- Lakukan pemanasan dan pendinginan sebelum/setelah latihan.
- Perkuat otot betis, pergelangan kaki, dan core.
- Ganti lintasan dengan permukaan lebih lunak seperti trek tanah atau treadmill.
***