PejuangKantoran.com - Dunia sepak bola baru saja dikejutkan oleh insiden kolapsnya gelandang timnas Denmark, Christian Eriksen, dalam pertandingan persahabatan melawan Ukraina pada 8 Juni 2026. Eriksen mendadak memegangi dada dan terjatuh tidak sadarkan diri di menit ke-65. Beruntung, alat pacu jantung (implantable cardioverter-defibrillator/ICD) yang ditanam di tubuhnya sejak insiden serupa pada Euro 2020 bekerja dengan baik, sehingga ia cepat siuman dan langsung dilarikan ke rumah sakit.
Insiden yang menimpa seorang atlet profesional dengan pengawasan medis super ketat ini membawa pesan penting bagi Gen Z, terutama yang saat ini sedang menggandrungi tren olahraga lari (mulai dari 5. 10K, Half Marathon atau Full Marathon). Olahraga yang tujuannya menyehatkan justru bisa memicu henti jantung mendadak jika dilakukan tanpa pemahaman mendalam tentang kondisi tubuh sendiri.
Baca Juga: Hanya 30 Menit Olahraga per Minggu Bisa Bantu Jaga Jantung, Kata Penelitian Baru
Baca Juga: Nordic Walking: Cara Sederhana yang Bisa Meningkatkan Kesehatan Jantung
Mengapa Atlet dan Anak Muda Bisa Kolaps?
Banyak orang salah kaprah bahwa henti jantung mendadak (sudden cardiac arrest) hanya menyerang orang tua. Faktanya, pada usia muda dan atlet, kondisi ini sering dipicu oleh:
- Kelainan Jantung Tersembunyi. Seperti kardiomiopati (penebalan otot jantung) atau gangguan elektrik jantung bawaan yang jarang bergejala saat santai.
- Intensitas Berlebih (Overexertion). Memaksakan diri berlari melampaui batas kemampuan maksimal tanpa latihan bertahap memicu stres berat pada otot jantung.
- Dehidrasi dan Gangguan Elektrolit. Kekurangan cairan akut mengganggu sinyal listrik yang mengatur detak jantung.
Panduan Berlari Aman untuk Gen Z
Agar tren lari tetap membawa manfaat kesehatan tanpa mengorbankan nyawa, berikut beberapa langkah mitigasi yang wajib diterapkan:
- Lakukan Screening Jantung Awal. Jangan langsung mendaftar maraton hanya karena ikut-ikutan FOMO. Lakukan pemeriksaan dasar seperti rekam jantung (EKG) di klinik atau rumah sakit untuk mendeteksi ada tidaknya kelainan struktural atau listrik jantung.
- Pantau Heart Rate (Denyut Jantung). Manfaatkan smartwatch untuk memantau zona detak jantung saat berlari. Batasi intensitas latihan agar tidak terlalu sering menyentuh Maximum Heart Rate (bisa dihitung kasar dengan rumus: 220 dikurangi usia Anda).
- Kenali Tanda Bahaya Tubuh. Segera berhenti berlari jika merasakan nyeri dada, sesak napas yang tidak biasa, pusing berputar, mata berkunang-kunang, atau jantung berdebar sangat tidak beraturan.
- Pahami Pentingnya Rest Day. Otot dan jantung membutuhkan waktu untuk pemulihan. Jangan berlari dengan intensitas tinggi setiap hari berturut-turut.
- Edukasi Diri dengan Kemampuan CPR. Kunci keselamatan Eriksen pada insiden pertamanya adalah aksi tanggap rekan setim dan tim medis yang langsung memberikan CPR (Cardiopulmonary Resuscitation). Gen Z dan komunitas lari sangat disarankan mempelajari teknik dasar kompresi dada ini untuk situasi darurat.
Melalui kedisiplinan berolahraga secara terukur, tren lari akan tetap menjadi gaya hidup yang positif, aman, dan menyehatkan bagi generasi muda ke depan.
Baca Juga: Maudy Ayunda Ungkap Olahraga Favorit yang Jadi Rahasia Energi dan Semangatnya