bugar

Jarang Duduk Sama Berisikonya dengan Terlalu Banyak Duduk, Risiko Serangan Jantung Menanti?

Sabtu, 20 Juni 2026 | 11:20 WIB
Ilustrasi: Jarang duduk justru dikaitkan dengan risiko kematian dan kejadian kardiovaskular yang lebih tinggi. (Freepik)

PejuangKantoran.com - Selama ini kita sering mendengar bahayanya "sedentary lifestyle", alias gaya hidup jarang bergerak. Kemudian kita juga selalu disarankan untuk rutin melakukan break setiap satu jam setelah duduk menghadapi laptop di meja kerja. Selain untuk meregangkan otot-otot yang kaku, jalan-jalan sebentar juga perlu biar kita nggak jenuh.

Tapi bagaimana kalau kebalikannya, kita jarang duduk? Sebab, Prospective Urban Rural Epidemiology (PURE), sebuah penelitian besar di mana salah satu obyek penelitiannya adalah 41.733 orang dewasa (rata-rata usia 50,6 tahun) di China, menemukan fakta berbeda.

Penelitian ini dilakukan hampir 12 tahun ini, di mana kebiasaan duduk, aktivitas fisik, dan pola tidur, dinilai menggunakan kuesioner yang sudah tervalidasi. Artinya, data yang dikumpulkan cukup akurat karena metode pengukurannya sudah teruji.

Baca Juga: Lowongan Kerja International Paid KOL Specialist di Brand Personal Care Sant Group Indonesia

Studi yang diterbitkan dalam Journal of Sport and Health Science ini melacak hubungan kesehatan seiring berjalannya waktu, bukan untuk mencari hubungan sebab-akibat secara langsung.

Hasilnya cukup mengejutkan, karena risiko kematian atau serangan kardiovaskular (jantung) justru berada di titik paling rendah pada orang yang duduk sekitar empat jam sehari.

Sedangkan orang yang duduk kurang dari dua jam sehari malah dihadapkan pada risiko kematian yang lebih tinggi dibanding mereka yang duduk dalam waktu sedang. Temuan ini jelas mendobrak anggapan umum bahwa makin jarang duduk, pasti makin baik buat kesehatan. 

Beban fisik petani dan kuli bangunan yang berbeda

Sebagian besar riset soal bahaya kebanyakan duduk biasanya datang dari negara-negara Barat yang makmur, di mana "banyak duduk" artinya adalah kerja kantoran di depan layar komputer.

Tapi beda ceritanya di China. Dari puluhan ribu partisipan yang diteliti, lebih dari 60 persen orang yang waktu duduknya paling sedikit (kurang dari dua jam sehari) ternyata bekerja di sektor yang menguras fisik, seperti petani atau kuli bangunan.

Baca Juga: Euforia Piala Dunia 2026 Bikin Masalah ketika Karyawan Ngaku Sakit padahal Habis Begadang

Mereka ini bukan orang kantoran yang aktif olahraga, melainkan pekerja yang berdiri dan banting tulang seharian penuh. Kita perlu memahami konteks ini untuk memahami datanya.

Jadi, orang yang jarang duduk karena pekerjaannya menuntut energi fisik yang berat dan terus-menerus sepanjang hari, ternyata tidak selalu mendapatkan manfaat kesehatan jantung yang sama dengan orang yang berolahraga secara sukarela di waktu luang mereka. 

Buat para pekerja yang tubuhnya sudah kelelahan karena beban kerja yang berat ini, waktu untuk beristirahat (termasuk duduk) justru bisa jadi berhubungan dengan hasil kesehatan yang lebih baik.

"Bagi orang-orang yang tubuhnya sudah terkuras habis oleh tuntutan fisik seharian penuh, istirahat itu bukan sebuah risiko kesehatan. Itu kebutuhan.

Halaman:

Tags

Terkini