Jarang Duduk Sama Berisikonya dengan Terlalu Banyak Duduk, Risiko Serangan Jantung Menanti?

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Sabtu, 20 Juni 2026 | 11:20 WIB
Ilustrasi: Jarang duduk justru dikaitkan dengan risiko kematian dan kejadian kardiovaskular yang lebih tinggi. (Freepik)
Ilustrasi: Jarang duduk justru dikaitkan dengan risiko kematian dan kejadian kardiovaskular yang lebih tinggi. (Freepik)

"Memberitahu seorang pekerja bangunan atau petani untuk mengurangi waktu duduk bisa jadi memberikan nasihat yang tidak hanya tidak membantu, tetapi justru berpotensi merugikan.

"Duduk, bagi orang-orang tersebut, sama sekali bukanlah bentuk kemalasan," begitu penjelasan dalam studi tersebut.  

Duduk terlalu lama tetap berbahaya

Meski begitu, temuan ini bukan mendorong masyarakat umum atau orang kantoran boleh langsung malas-malasan dan sengaja duduk lebih lama, ya.

Baca Juga: 1 dari 5 Lulusan Baru Melamar Lebih dari 100 Lowongan Kerja, Bukti Kecemasan yang Meningkat!

Dalam studi yang sama, orang yang duduk selama delapan jam atau lebih sehari tetap menunjukkan risiko kematian akibat penyakit jantung yang lebih tinggi.

Studi ini justru mengingatkan para ahli kesehatan agar tidak menyamaratakan semua orang dalam membuat imbauan. Kita harus melihat gambaran utuh dari apa yang dilakukan seseorang sepanjang hari.

Bagaimanapun, kebutuhan tubuh seorang pekerja kantoran tentu tidak bisa disamakan dengan seorang petani yang sudah kelelahan di sawah.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Studyfinds

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X