Ketika tubuh mulai lelah, perhatian biasanya semakin tertuju pada napas, kaki yang mulai berat, atau rasa tidak nyaman di tubuh. Musik dapat menjadi distraksi positif sehingga perhatian tidak sepenuhnya tertuju pada sensasi tersebut.
Itulah sebabnya dua orang yang berlari pada intensitas serupa belum tentu memiliki pengalaman yang sama. Pelari yang menemukan musik yang cocok bisa merasa sesi latihan lebih enjoyable.
Namun, ada catatannya: musik yang membuat lari terasa lebih mudah bukan berarti tubuh benar-benar bekerja lebih ringan.
Jadi, jangan sampai lagu yang terlalu memacu justru membuat pelari berlari lebih cepat dari target latihan.
Dari Playlist Favorit ke Personal Running Soundtrack
Pada akhirnya, kehadiran Spotify Running Mode menunjukkan bagaimana aktivitas lari semakin personal. Ketika akan berlari mungkin sudah tidak bertanya, “Akan berlari berapa KM hari ini?”, tetapi pertanyaannya berubah menjadi “Hari ini saya butuh musik seperti apa?”
Jadi, apakah playlist bisa membuat pace lebih konsisten? Bisa membantu, tetapi bukan karena lagu secara ajaib membuat kaki berlari pada kecepatan tertentu. Kuncinya ada pada ritme. Dan mungkin, dengan Running Mode, menemukan ritme yang paling cocok untuk setiap pelari akan menjadi sedikit lebih mudah.
Baca Juga: Kaki Terasa Sakit Setelah Lari? Cedera Shin Splints atau DOMS, Ya? Begini Perbedaan Keduanya!