Bukan Gaji, 59% Pekerja di Malaysia Resign Akibat Bos dan Budaya Kerja Toxic

photo author
Christina A.S, Pejuang Kantoran
- Sabtu, 14 Maret 2026 | 08:10 WIB
Ilustrasi: Tipe bos yang toxic biasanya suka melontarkan kata-kata yang malah menurunkan motivasi untuk bekerja. (Freepik/Azerbaijan_stockers)
Ilustrasi: Tipe bos yang toxic biasanya suka melontarkan kata-kata yang malah menurunkan motivasi untuk bekerja. (Freepik/Azerbaijan_stockers)

PejuangKantoran.com - Bagi banyak pekerja di era modern, meja kantor bukan lagi sekadar tempat mencari nafkah, melainkan ekosistem yang menentukan kualitas hidup.

Namun, laporan terbaru dari PwC Global Asia Pacific Hope and Fears Survey 2024 mengungkap fakta mengejutkan: hubungan dengan atasan dan budaya kerja yang tidak sehat kini menjadi "pendorong" utama seseorang untuk angkat kaki.

Di Malaysia, fenomena ini mencapai titik puncaknya. Sebanyak 59% pekerja di sana memilih untuk resign karena alasan bos yang bermasalah atau lingkungan kerja yang toxic. Angka ini menempatkan Malaysia di urutan tertinggi untuk alasan pengunduran diri akibat faktor kepemimpinan di seluruh wilayah Asia Pasifik.

Baca Juga: Daftar Rest Area Tol Trans Jawa Lengkap dengan SPBU, SPKLU, Tempat Makan, Masjid-Musala

Laporan tersebut menegaskan bahwa beban kerja yang tinggi atau gaji yang kurang kompetitif sering kali masih bisa ditoleransi. Namun, ketika rasa "memiliki" (sense of belonging) hilang dan hubungan dengan rekan kerja memburuk, motivasi pekerja akan runtuh.

Beberapa faktor penentu yang kini dianggap lebih krusial daripada sekadar nominal gaji antara lain:

  • Fleksibilitas Kerja: Kebebasan untuk mengatur waktu dan lokasi kerja.

  • Koneksi Sosial: Hubungan yang suportif dengan rekan kerja satu tim.

  • Kualitas Kepemimpinan: Atasan yang mampu memberikan arahan tanpa tekanan mental yang berlebihan.

Baca Juga: Batas Waktu Lapor SPT 2026 Berpotensi Diperpanjang, Ini Pertimbangan DJP

Bagaimana dengan Indonesia?

Situasi di Indonesia tidak jauh berbeda, meski angkanya sedikit di bawah Malaysia. Menurut survei serupa dan tambahan data dari laporan Mercer Marsh Benefits, pekerja Indonesia kini semakin vokal mengenai kesehatan mental.

Di Indonesia, faktor "lingkungan kerja yang aman secara psikologis" menjadi salah satu dari tiga alasan teratas orang bertahan di sebuah perusahaan. Menariknya, banyak pekerja Indonesia yang merasa bahwa meskipun beban kerja mereka meningkat (terutama pasca-pandemi), mereka tetap bertahan jika memiliki atasan yang empati dan transparan. Sebaliknya, gaya kepemimpinan yang micro-managing dan budaya lembur yang tidak dihargai menjadi pemicu utama burnout yang berujung pada pengunduran diri massal.

Baca Juga: Mengenal Clockify, Tool Andalan Freelancer atau Pekerja Remote yang Kerjanya Dibayar Per Jam

Data ini menjadi alarm keras bagi para pemberi kerja. Mengandalkan kenaikan gaji tahunan saja tidak lagi cukup untuk mempertahankan talenta terbaik. Perusahaan perlu berinvestasi pada pelatihan kepemimpinan bagi para manajer agar mampu menciptakan ruang kerja yang manusiawi.

Pada akhirnya, pekerja tidak benar-benar meninggalkan pekerjaan mereka—mereka meninggalkan atasan yang buruk dan budaya yang menguras energi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Christina A.S

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X