PejuangKantoran.com - Saat ini, punya banyak follower di media sosial dan menyebarkan konten kepada mereka saja tidak cukup. Bisnis harus membangun komunitas yang tulus supaya bisa terus-menerus berinteraksi dengan target audiens mereka.
Interaksi dengan komunitas (community engagement) dan masukan dari pelanggan itu akan sangat berharga untuk bisnis apa pun. Lewat dua hal ini, brand punya kesempatan besar untuk sekadar PDKT dengan pelanggan, sekaligus untuk belajar banyak hal dari mereka.
Istilah "komunitas" itu sendiri bukan sekadar lagi ngetren, melainkan pilar utama dari setiap brand yang sukses. Tapi ingat, membangun komunitas itu butuh usaha yang konsisten dan proaktif.
Baca Juga: 6 Tanda Sudah Waktunya Membangun Komunitas yang Lebih Terarah agar Bisnis Bisa Terus Bertumbuh
Biar nggak salah langkah dan malah berujung boncos, coba cek dulu apakah bisnis kamu sudah berhasil melewati tiga syarat membangun komunitas berikut ini.
Syarat membangun komunitas
• Punya satu kesamaan nasib
Kamu mungkin punya banyak pengikut karena mereka suka dengan konten atau opinimu di media sosial. Tapi ingat, itu namanya audiens, bukan komunitas.
Kamu baru dikatakan siap membangun komunitas kalau orang-orang di dalamnya sedang berjuang menghadapi tantangan yang sama, misalnya sama-sama ingin menaikkan omzet agensi atau memperbaiki pola makan.
Kalau mereka cuma mau mengobrol dan tanya-tanya sama kamu, kamu belum siap. Mereka harus punya alasan kuat untuk saling mengobrol satu sama lain.
Baca Juga: Mendadak, Pemerintah Kota Tokyo Mengimbau Karyawan Pakai Celana Pendek untuk ke Kantor
• Sudah punya mantan klien
Kamu butuh fondasi kuat untuk membentuk budaya di dalam komunitas. Syarat amannya, kamu harus punya minimal 15 sampai 20 mantan klien atau orang yang sudah pernah mengikuti program yang kamu buat, yang masih ingin berada di lingkaran bisnismu.
Mereka ini sudah nggak butuh sesi one-on-one yang intens sama kamu, tapi mereka masih cinta dengan lingkungan yang kamu buat. Merekalah yang nantinya akan membantu menjawab pertanyaan dan menjadi panutan bagi anggota baru yang baru bergabung.
• Punya waktu dan anggaran
Artikel Terkait
Setelah Lama Menanti, Jirayut Pecah Telur Main Film Pertamanya di Horor Komedi 'Cek Khodam'
Kata Penelitian, Liburan Setiap Dua Bulan Lebih Efektif Cegah Burnout
6 Tanda Sudah Waktunya Membangun Komunitas yang Lebih Terarah agar Bisnis Bisa Terus Bertumbuh
TikTok Konfirmasi PHK Karyawan di Indonesia, Sebut Sedang Restrukturisasi Organisasi R&D
11 Cara Lain Mengatakan “Oke" dalam Bahasa Inggris biar Isi Email Kamu Nggak Itu-itu Saja
Ini 10 Negara yang Punya Bahasa Terbanyak di Dunia, Nomer Satu Ternyata Bukan Indonesia
Mendadak, Pemerintah Kota Tokyo Mengimbau Karyawan Pakai Celana Pendek untuk ke Kantor