1. Ownership bukan berarti harus mengerjakan semua sendiri. Ia harus bisa berkolaborasi dengan pihak lain demi tercapainya tujuan.
2. Ownership bukan berarti mengambil alih pekerjaan orang lain. Semua punya tugas sesuai kapasitas masing-masing.
3. Ownership juga bisa mengatakan “tidak” untuk hal yang tidak realistis.
4. Ownership bukan berarti berinisiatif tanpa bertanya kepada yang terkait.
5. Ownership tidak harus menyalahkan diri sendiri atas kegagaglan. Ia harus problem solver bukan sel-blamer.
Baca Juga: 4 Skill Kerja 2026, Saatnya Kolaborasi Manusia dan Teknologi
6. Ownership pun bisa gagal, namun bisa mengevaluasi kegagalan dan berupaya memperbaikinya untuk hasil akhir yang lebih baik.
7. Ownership bukan berati bekerja paling banyak, karena ia harus bisa menetapkan prioritas, meminta bantuan, memperbaiki proses, mendelegasikan tugas, dan menyelesaikan masalah secara efisien.
8. Ownership bukan berarti harus menanggung semua tanggung jawab, termasuk yang bukan kewenangannya. Ia akan berupaya mempertanggung jawabkan domain-nya dengan tujuan agar mendapatkan penyelesaian yang baik bagi semuanya.
Jadi, secara garis besar, ownership adalah kemauan untuk mengambil tanggung jawab terhadap outcome, mengambil tindakan yang berada dalam kewenangan, melibatkan pihak yang diperlukan, dan memastikan masalah tidak berhenti hanya karena “bukan tugas saya”. ***
Artikel Terkait
Problem Solving, Salah Satu Modal IT Analyst untuk Menjembatani Kebutuhan Bisnis dan Solusi Teknis
Apa Manfaat dan Pentinganya Brand Value yang Tinggi Bagi Perusahaan? Siapa yang Bertanggung Jawab Untuk Itu?
3 Cara yang Bisa Kamu Terapkan dalam Melakukan Kolaborasi yang Efektif di Tempat Kerja
Awas Jangan Sering-Sering “Yes Bos” atau Asal Bapak Senang di Kantor, Karena Dampaknya Bisa Berpengaruh Sama Kerjasama Tim dan Karir Kamu!
5 Kategori Pertanyaan dalam Competency-Based Interview untuk Menguji Kemampuan Menangani Tugas