kubikel

Mengapa Karyawan yang Mumpuni Menjadi Tidak Kompeten ketika Diangkat Jadi Manager?

Rabu, 14 Agustus 2024 | 18:23 WIB
Ilustrasi: Manajer yang tidak kompeten entah bagaimana berhasil meningkatkan karirnya, tapi kemudian gagal dan membahayakan orang lain. (Freepik/Kate Mangostar)

PejuangKantoran.comPeople don't quit companies, they quit bosses, begitu mitos yang sering beredar di dunia kerja.

Namanya saja mitos, yang belum dapat dikonfirmasi kebenarannya. Faktanya, memang banyak manajer yang tidak kompeten sehingga membuat karyawan tidak betah.

Pada dasarnya, manajer berperan penting dalam membentuk pengalaman karyawan. Penelitian menunjukkan, hampir 70% perubahan dalam keterlibatan karyawan bisa diprediksi oleh perilaku, keputusan, dan ciri kepribadian manajer mereka.

Baca Juga: Shopee Pindahkan Karyawan Satu Departemen Ke Solo dan Yogyakarta, Berapa Penghematannya?

Dengan kata lain, apakah orang senang, bersemangat, atau sengsara di tempat kerja, sebagian besar tergantung pada atasan mereka, apakah mereka manajer yang tidak kompeten atau sebaliknya.

Sayangnya, pengaruh manajer terhadap karyawan lebih sering merugikan daripada memberdayakan. Itu sebabnya muncul anggapan bahwa karyawan berhenti dari atasan mereka, bukan berhenti dari pekerjaan mereka.

Hal ini diperkuat oleh studi Gallup terhadap lebih dari 7.000 orang dewasa baru-baru ini, yang menemukan bahwa 50% karyawan resign untuk melepaskan diri dari manajer yang tidak kompeten.

Alasan mengapa beberapa manajer sangat tidak kompeten sudah lama menjadi perhatian para peneliti dan praktisi. Ada banyak teori yang mengatakan bahwa individu yang tidak kompeten entah bagaimana berhasil meningkatkan karirnya, menaiki tangga organisasi, tapi kemudian gagal dan membahayakan orang lain.

Beberapa manajer yang tidak kompeten menjadi sukses karena sifat mereka yang terlalu percaya diri atau narsis, seperti yang dibahas dalam buku karya Tomas Chamorro-Premuzic, Why Do So Many Incompetent Men Become Leaders?.

Ada pula individu yang menjadi sukses melalui koneksi mereka yang kuat, karena keterampilan politiknya, atau hanya karena keberuntungan yang tidak dapat dijelaskan oleh teori.

Baca Juga: Mulai Kewalahan dengan Pekerjaan? Gini Cara Menetapkan Batasan Kerja biar Nggak Lelah dan Jenuh

Yang lebih menarik, tidak jarang individu yang berkinerja baik dalam pekerjaan mereka ternyata gagal berkinerja seperti yang diharapkan ketika diberi tanggung jawab manajerial atau kepemimpinan.

The Peter Principle

Hal ini sama seperti halnya atlet yang hebat ketika masih aktif, ternyata bisa mengecewakan setelah pensiun dan beralih menjadi pelatih. Mereka menjadi manajer yang tidak kompeten karena tidak memiliki keterampilan manajerial.

Fenomena ini dijelaskan dengan baik dalam buku The Peter Principle, yang ditulis oleh Laurence J. Peter dan Raymond Hull pada tahun 1969.

Halaman:

Tags

Terkini