Premis inti dari prinsip tersebut sederhana: "Dalam hierarki organisasi, setiap karyawan cenderung naik ke tingkat ketidakmampuannya."
Artinya, orang-orang dipromosikan hingga mereka tidak lagi layak untuk dipromosikan, yang berarti bahwa potensi mereka yang sebenarnya adalah pada peran sebelum mereka naik jabatan.
Baca Juga: Fit Hub Buka Lowongan Kerja Jadi Senior Copywriter, Minat Coba?
The Peter Principle sebenarnya adalah konsep lama, tetapi masih menjelaskan beberapa masalah terbesar di perusahaan, di mana kehadiran manajer yang tidak kompeten membuat bawahan mereka frustrasi.
Kamu mungkin sudah merasakan dampaknya ketika kamu sudah bekerja atau sedang bekerja untuk seseorang yang akhirnya menjadi atasan kamu, orang yang kurang memiliki keterampilan dalam mengelola orang lain.
Peter dan Hull memberikan contoh dalam bukunya, di mana pekerja pabrik penggulung pil dengan kinerja tinggi, setelah dipromosikan ke peran manajerial pertamanya akan bertahan di sana sampai akhir karirnya.
Ternyata, mereka tidak memiliki keterampilan interpersonal untuk mengelola secara efektif. Para pekerja pabrik itu dipromosikan berdasarkan seberapa cepat mereka menghasilkan produk gulung, tetapi tidak tahu cara mengelola pekerja lain.
Peter dan Hull mengembangkan The Peter Principle sebagai kritik satir terhadap inefisiensi yang sering ditemukan dalam praktik manajemen, dan sangat bergantung pada kasus-kasus hipotetis.
Baca Juga: Rilis Trailer Laura, Manoj Punjabi Anggap Kisah Laura Edelenyi Lebih Seram daripada Film Horor
Namun, bukti yang muncul mendukung pernyataan inti prinsip tersebut dengan menunjukkan bahwa promosi yang berfokus pada kinerja masa lalu bisa menyebabkan karyawan mencapai tingkat ketidakmampuan mereka.
Praktik ini bisa merugikan perusahaan dan individu, karena mempromosikan manajer dengan keterampilan yang tidak memadai.
Atau, menghilangkan peluang promosi untuk karyawan yang memiliki keterampilan manajerial yang sangat baik tetapi agak tertinggal dalam melakukan penjualan.