Pejuangkantoran.com – Dalam berbagai survei belakangan, hybrid working tampaknya menjadi pilihan yang dominan. Di Indonesia sendiri, seperti yang dicatat dalam laman goodstats.id, minat pekerja untuk bekerja full di kantor (WFO, work from office) hanya 9%.
Sementara yang menginginkan WFH (work from home) sebanyak 23%. Paling besar adalah mereka menginginkan sistem hybrid yang menggabungkan keduanya, yaitu sebesar 68%.
Hybrid working adalah memadukan antara bekerja di kantor dan bekerja dari mana saja (rumah, café, dan di mana saja yang bukan di kantor).
Hybrid working ini menjadi tren karena karyawan paling produktif adalah ketika mereka dapat memilih tempat bekerja, memilih situasi kerja yang paling sesuai mereka, dan gaya kerja mereka.
Ada karyawan yang lebih suka bergaul dengan rekan kerja, namun ada juga yang lebih memilih ingin bekerja secara mandiri. Beberapa terganggu oleh kebisingan kantor, namun ada juga yang tak tahan dengan keheningan.
Orang tua yang baru punya anak dan orang yang punya tanggungan lansia di rumah, akan lebih meyukai fleksibilitas bekerja dari rumah.
Sementara karyawan Gen Z bih senang jika bisa bertemu dan bergaul dengan rekan kerja, serta mendapatkan arahan langsung yang hanya bisa didapat ketika datang di kantor.
Baca Juga: Sistem Hybrid Bikin Karyawan Stres Karena Harus Booking Tempat Duduk Sebelum Masuk Kerja
Konsekuensi dengan hybrid working ini adalah adanya hybrid team. Ada dua jenis hybrid team, yaitu terstruktur dan tidak terstruktur.
Tim hybrid terstruktur adalah tim di mana perusahaan menetapkan hari-hari karyawan harus berada di kantor. Misalnya, tiga hari di kantor dan dua hari bekerja jarak jauh selama seminggu kerja.
Ini jadwal yang umum dijumpai pada tim hybrid terstruktur. Keuntungan dari tim hybrid terstruktur adalah karyawan tahu persis kapan rekan satu tim akan berada di kantor. Ini bisa memberi mereka waktu yang konsisten untuk bekerja sama dan membangun hubungan sosial.
Sementara tim hybrid tidak terstruktur, tidak menetapkan hari-hari karyawan harus berada di kantor. Sebaliknya, mereka menyerahkan waktu bekerja di kantor kepada kebijaksanaan masing-masing karyawan.
Hal ini memberi karyawan fleksibilitas yang lebih besar, dan ini sangat diapresiasi oleh karyawan. Kekurangan dari tim ini adalah, antara rekan satu tim lebih sulit untuk secara konsisten mendapatkan waktu tatap muka satu sama lain.
Masing-masing punya kekuatan, tergantung dari jenis layanan dari prusahaan tersebut.