Jangan “bakar jembatan sebelum menyeberang”
Walau situasinya tidak ideal, tetap lakukan pekerjaan sebaik mungkin. Dunia kerja itu sempit sehingga reputasi buruk bisa menyebar cepat. Kamu tidak mau dikenal sebagai “karyawan yang sulit” hanya karena satu atasan yang tidak cocok.
Fokuslah pada kualitas kerja. Tunjukkan bahwa kamu tetap profesional, meskipun kondisi tidak sempurna. Kalau terpaksa keluar, pastikan kamu pergi dengan kepala tegak.
Baca Juga: Tak Sadar Ucapkan 7 Kalimat Ini, Bisa Jadi Tanda Kalau Kamu Sudah Siap Resign
Kapan waktunya resign?
Kalau suasana kerja sudah terlalu mengganggu kesehatan mental, mood sehari-hari, bahkan kehidupan di luar pekerjaan, mungkin saatnya mempertimbangkan strategi keluar.
Namun, saat wawancara kerja di tempat baru, jangan menjadikan “benci atasan lama” sebagai alasan utama.
Manajer perekrutan lebih suka mendengar bahwa kamu mencari peluang untuk berkembang, ingin budaya kerja yang positif, dan ingin dipimpin oleh pemimpin yang mendukung. Fokus pada hal-hal yang kamu cari, bukan hal-hal yang kamu hindari.
Pada akhirnya, masalah dengan atasan yang sulit diajak kerja sama memang membuat lelah, tetapi cara kamu menghadapinya akan menentukan bagaimana karier kamu berkembang ke depannya.
Jadi, bermainlah dengan strategi, bukan emosi. ***