- Respons langsung
Jika situasi memungkinkan, kamu bisa merespon langsung. Ini bisa kamu gunakan jika:
- Kamu merasa cukup aman,
- pelanggaran belum eskalatif.
Gunakan komunikasi yang tegas, bukan emosional. Contoh:
- “Saya tidak nyaman dengan komentar itu. Tolong hentikan.”
- “Mari kita jaga profesionalitas di ruang kerja.”
Ini terkait dengan konsep Assertive Communication, yaitu jelas, tidak agresif, dan tidak defensif. Tujuannya: memberi batas (boundary) secara eksplisit.
- Dokumentasi
Jangan abaikan dokumentasi, karena ini sangat penting. Ketika ada kejadian, lakukan hal berikut ini:
- catat waktu, tempat, siapa saja yang hadir,
- simpan bukti (chat, email, rekaman jika memungkinkan),
- tulis kronologi segera setelah kejadian.
Catatan atau dokumentasi ini akan sangat menentukan jika kasus naik ke tahap formal.
Baca Juga: Waspada, Pelecehan di Tempat Kerja Bisa Dilakukan oleh Pihak Luar. Apa Tanggung Jawab Perusahaan?
- Cari dukungan
Jangan menghadapi kasus-kasus seperti ini sendirian, cari dukungan. Kamu bisa mencari dukungan dari:
- rekan kerja yang tepercaya,
- atasan lain (jika pelaku bukan atasan langsung),
- unit SDM / kepegawaian.
Di sejumlah kantor, ada tim khusus yang menangani ksus-kasus seperti ini atau ada mekanisme seperti Rumah Perlindungan Pekerja Perempuan (RP3).
Dukungan sosial seperti ini penting untuk validasi, keamanan, dan kekuatan saat melapor.
- Gunakan jalur formal
Jika pelanggaran terjadi berulang, berdampak serius, atau melibatkan relasi kuasa, maka eskalasi wajib dilakukan:
Saluran yang bisa kamu tempuh adalah:
- HR / kepegawaian,
- inspektorat (untuk instansi pemerintah),
- komite etik / disiplin.
Landasan bisa mengacu ke:
- prinsip CEDAW (Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women) konvensi tentang penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap Perempuan (di bawah PBB),
- kebijakan internal kantor.
Kunci adalah lapor dengan data, bukan opini.
Baca Juga: Dideklarasikan, Kepmenaker tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Tempat Kerja
- Lindungi diri dari risiko balik (retaliasi)
Sering kali pelaporan seperti ini malah memicu adanya reatliasi atau tindakan balasan yang merugikan seseorang karena ia melaporkan, menolak, atau mengungkap pelanggaran. Langkah antisipasi: