toxic
PejuangKantoran.com - Hari pertama di kantor baru biasanya dipenuhi rasa antusias sekaligus gugup. Namun menurut para pakar karier, kesan pertama di tempat kerja justru bisa menjadi indikator penting apakah lingkungan kerja tersebut sehat atau malah berpotensi toxic.
Dalam laporan terbaru yang dikutip HuffPost, sejumlah ahli mengungkap bahwa banyak tanda toxic workplace sebenarnya sudah terlihat sejak hari pertama seseorang mulai bekerja. Masalahnya, banyak karyawan sering mengabaikannya karena masih berusaha beradaptasi dengan lingkungan baru.
Mary Abbajay, penulis buku manajemen kerja, mengatakan lingkungan kerja toxic dapat berdampak besar terhadap kesehatan mental hingga kepercayaan diri seseorang. Semakin lama seseorang bertahan dalam budaya kerja yang buruk, semakin sulit pula untuk keluar karena mulai merasa masalah tersebut berasal dari dirinya sendiri.
Baca Juga: Kenapa Disebut “Tiket Pulang Pergi”, Bukan “Pergi Pulang”? Ini Jawabnya
Salah satu red flag terbesar adalah tidak adanya proses onboarding yang jelas. Ketika karyawan baru tidak diberi arahan, tujuan kerja, atau bahkan penjelasan mengenai peran mereka sejak awal, hal itu bisa menandakan buruknya sistem manajemen di perusahaan tersebut. Para ahli menyebut kebingungan yang dibiarkan terus terjadi sering kali menjadi ciri organisasi yang tidak sehat.
Tanda lain yang perlu diperhatikan adalah budaya gosip dan perilaku tidak sopan yang dianggap normal di kantor. Jika di hari pertama karyawan langsung mendengar rekan kerja menjelekkan orang lain atau melihat atasan membiarkan perilaku kasar terjadi, itu bisa menjadi sinyal adanya budaya kerja yang tidak aman secara emosional.
Selain itu, perusahaan dengan tingkat turnover tinggi juga patut diwaspadai. Bila banyak karyawan baru keluar dalam waktu singkat atau posisi yang sama terus-menerus dibuka, hal tersebut dapat menunjukkan adanya masalah internal yang serius, mulai dari tekanan kerja berlebihan hingga manajemen yang buruk.
Baca Juga: 9 Kalimat yang Sering Diucapkan Orang Saat Mereka Sebenarnya Lagi Stres Berat
Para pakar juga memperingatkan soal penggunaan jargon seperti “work hard, play hard”, “kami seperti keluarga”, atau “fast-paced environment” tanpa penjelasan konkret. Meski terdengar positif, istilah-istilah tersebut kerap digunakan untuk menormalisasi budaya lembur, tekanan kerja tinggi, dan batas kehidupan pribadi yang kabur.
Toxic workplace bukan hanya berdampak pada stres harian, tetapi juga kesehatan jangka panjang. Penelitian MIT Sloan Management Review yang dikutip beberapa laporan menyebut budaya kerja toxic menjadi salah satu faktor terbesar penyebab karyawan resign, bahkan lebih berpengaruh dibanding gaji rendah.
Karena itu, para ahli menyarankan karyawan baru untuk tidak mengabaikan intuisi mereka. Jika sejak awal suasana kantor terasa penuh ketegangan, komunikasi buruk, atau tidak ada rasa saling menghargai, penting untuk mulai mengevaluasi apakah lingkungan tersebut benar-benar mendukung perkembangan karier dan kesehatan mental dalam jangka panjang.