PejuangKantoran.com - Memiliki gelar sarjana kini dinilai belum cukup untuk bersaing di dunia kerja. Perusahaan semakin mengutamakan keterampilan yang terbukti melalui sertifikasi dan kompetensi nyata dibanding hanya melihat latar belakang pendidikan formal.
Hal tersebut disampaikan Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Institut Teknologi Bandung (ITB), Irwan Meilano. Menurutnya, gelar masih memiliki peran penting, tetapi lebih sebagai syarat awal untuk memasuki proses rekrutmen.
"Gelar itu hanya menjadi entry level," ujar Irwan.
Irwan menjelaskan, tren rekrutmen saat ini menunjukkan perusahaan lebih fokus mencari kandidat yang memiliki kemampuan yang dapat dibuktikan, misalnya melalui sertifikasi, portofolio, maupun pengalaman mengerjakan proyek.
"Data menunjukkan kebutuhan akan skill baru semakin meningkat. Banyak perusahaan sekarang lebih fokus pada skill dan bukti kompetensi yang terverifikasi, bukan hanya sekadar gelar," katanya.
Hampir 40 Persen Dunia Kerja Membutuhkan Skill Baru
Irwan mengungkapkan, sekitar 40 persen kebutuhan dunia kerja saat ini mengarah pada keterampilan baru yang belum tentu diajarkan secara penuh di bangku kuliah.
Perubahan tersebut dipengaruhi oleh perkembangan teknologi, digitalisasi, hingga munculnya berbagai profesi baru yang membutuhkan kompetensi spesifik.
Karena itu, menurutnya, perguruan tinggi perlu lebih cepat beradaptasi agar lulusan memiliki bekal yang sesuai dengan kebutuhan industri.
Baca Juga: Fokus Hindari Cedera, Jurus Kurniawan Dwi Yulianto Rekrut Tim Indonesia All Star Lawan Aston Villa
Sertifikasi dan Portofolio Semakin Penting
Selain ijazah, sertifikasi kompetensi kini menjadi nilai tambah dalam proses rekrutmen. Banyak perusahaan menggunakan sertifikasi untuk memastikan kemampuan kandidat telah memenuhi standar tertentu.
Tak hanya itu, portofolio, pengalaman magang, hingga keterlibatan dalam proyek nyata juga semakin diperhitungkan sebagai bukti kemampuan calon pekerja.
Dengan perubahan tren tersebut, lulusan perguruan tinggi diharapkan tidak hanya mengejar nilai akademik, tetapi juga aktif mengembangkan keterampilan melalui pelatihan, kursus, sertifikasi, dan pengalaman praktis agar tetap relevan di pasar kerja yang terus berubah.