Usia di Atas 40 Tahun? Riset Sebut Otak Bekerja Optimal Sekitar 25 Jam per Minggu

photo author
Christina A.S, Pejuang Kantoran
- Sabtu, 25 Juli 2026 | 08:05 WIB
Ilustrasi: Haruskah kita menerima penawaran kerja dengan gaji lebih rendah setelah kena PHK? (Freepik/Pressfoto)
Ilustrasi: Haruskah kita menerima penawaran kerja dengan gaji lebih rendah setelah kena PHK? (Freepik/Pressfoto)

PejuangKantoran.com - Bekerja lebih lama tidak selalu berarti lebih produktif. Setidaknya, itulah temuan sebuah riset dari Melbourne Institute of Applied Economic and Social Research yang menunjukkan bahwa bagi orang berusia di atas 40 tahun, kemampuan kognitif mencapai titik optimal saat bekerja sekitar 25 jam per minggu. Setelah melewati batas tersebut, performa otak justru mulai menurun akibat kelelahan dan stres.

Penelitian yang dilakukan terhadap lebih dari 6.500 orang dewasa Australia berusia 40 tahun ke atas ini mengukur hubungan antara jam kerja dan kemampuan kognitif, termasuk daya ingat, kemampuan berpikir abstrak, serta fungsi eksekutif seperti pemecahan masalah dan pengambilan keputusan. Hasilnya menunjukkan adanya hubungan yang tidak linear antara jam kerja dan kesehatan otak. 

Para peneliti menemukan bahwa bekerja hingga sekitar 25 jam per minggu memberikan stimulasi mental yang bermanfaat bagi otak. Namun, ketika jam kerja terus bertambah, manfaat tersebut mulai tergantikan oleh dampak negatif kelelahan fisik dan mental.

Baca Juga: Urusan Negosiasi Bisnis, Ternyata Banyak Orang Lebih Suka Melakukannya dengan Kaum Perempuan

Menariknya, penelitian ini juga menemukan bahwa bekerja terlalu sedikit bukanlah solusi. Mereka yang tidak bekerja sama sekali atau bekerja sangat sedikit juga menunjukkan penurunan fungsi kognitif karena otak tidak mendapatkan stimulasi yang cukup. Dengan kata lain, otak membutuhkan keseimbangan antara aktivitas dan waktu pemulihan.

Dalam makalah penelitian tersebut, para peneliti menyebut pekerjaan sebagai "pedang bermata dua". Di satu sisi, pekerjaan membantu menjaga otak tetap aktif. Di sisi lain, jam kerja yang terlalu panjang dan tuntutan pekerjaan yang tinggi dapat memicu stres dan kelelahan yang berdampak pada penurunan kemampuan berpikir. 

Temuan ini kembali memunculkan diskusi mengenai pengaturan jam kerja yang lebih fleksibel, termasuk konsep empat hari kerja dalam sepekan. Meski penelitian ini tidak secara langsung merekomendasikan semua orang hanya bekerja 25 jam seminggu, hasilnya menunjukkan bahwa waktu istirahat dan pemulihan merupakan bagian penting untuk menjaga fungsi otak, terutama pada pekerja paruh baya.

Baca Juga: Supermarket Tourism, Tren Baru ketika Supermarket Lokal Jadi Spot Wajib untuk Dikunjungi Turis

Perlu dicatat, penelitian ini menggunakan data pekerja Australia berusia 40 tahun ke atas sehingga hasilnya tidak serta-merta berlaku untuk semua kelompok usia maupun semua jenis pekerjaan. Namun, riset ini memberikan gambaran bahwa produktivitas tidak hanya ditentukan oleh lamanya seseorang bekerja, tetapi juga oleh keseimbangan antara beban kerja, stimulasi mental, dan kesempatan bagi otak untuk beristirahat. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Christina A.S

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X