Survei LinkedIn: Makin Banyak Perusahaan yang Tidak Mengharuskan Pelamar Punya Gelar Sarjana

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Jumat, 8 September 2023 | 13:03 WIB
Ilustrasi: Rekruter saat ini cenderung mencari karyawan dengan mempertimbangkan keahlian, ketimbang gelar sarjananya. (Freepik)
Ilustrasi: Rekruter saat ini cenderung mencari karyawan dengan mempertimbangkan keahlian, ketimbang gelar sarjananya. (Freepik)

PejuangKantoran.com - Persaingan kerja saat ini semakin meningkat, mengingat semakin banyak pula perusahaan yang melakukan perampingan karyawan.

Namun -barangkali hasil survei ini bisa menjadi keuntungan tersendiri- temuan LinkedIn menunjukkan bahwa perusahaan saat ini cenderung merekrut karyawan baru berdasarkan keterampilannya, dan tidak lagi berfokus pada gelar sarjana dan kualifikasinya.

Di Inggris, ada peningkatan sebesar 90% pada iklan lowongan kerja antara tahun 2021 dan 2022 yang tidak mencantumkan gelar sarjana sebagai persyaratan.

Baca Juga: Menurut Survei, Karyawan Gen Z Paling Sulit Ditangani di Tempat Kerja. Ada yang Tahu Kenapa?

Secara global, semakin banyak rekruter cenderung mencari karyawan berdasarkan keahlian dan pengalamannya, dan tidak mementingkan gelar sarjana.

Menurut laporan Future of Recruiting LinkedIn tahun 2023, 20% pekerjaan yang terdaftar di AS tidak memerlukan gelar sarjana empat tahun, naik sekitar 15% pada tahun 2021.

LinkedIn memprediksi, pergeseran ini kelak akan semakin intensif. Sekitar 75% rekruter profesional mengantisipasi perekrutan yang mengutamakan keterampilan akan menjadi prioritas bagi perusahaan mereka selama 18 bulan ke depan.

Perusahaan yang secara historis memiliki kriteria perekrutan yang ketat, seperti persyaratan gelar tertentu, mengabaikan tuntutan ini dalam daftar pekerjaan.

Perusahaan-perusahaan seperti IBM, Accenture, Dell, Bank of America, Google, dan Tesla, termasuk di antara perusahaan-perusahaan yang semakin banyak merekrut karyawan berdasarkan keterampilannya.

“Gelar memang penting untuk pekerjaan tertentu, tetapi ada sejumlah peluang menarik dan jalur alternatif bagi mereka yang bukan lulusan universitas,” ujar Josh Graff, direktur pelaksana LinkedIn untuk Eropa, Timur Tengah, Afrika, dan Amerika Latin.

Baca Juga: Bahkan Zoom Meminta Karyawan untuk Kembali Bekerja di Kantor, Setidaknya 2 Kali Seminggu

“Sungguh positif melihat bahwa dunia usaha –seperti IBM dan Kellogg’s UK– berpikir lebih luas tentang cara menemukan dan membina talenta.

“Dengan menghilangkan hambatan yang tidak perlu dalam proses perekrutan, kami dapat membantu menyamakan kedudukan bagi para pencari kerja dan menghadirkan keragaman berbagai bakat, perspektif segar, dan ide ke dalam organisasi," tambahnya.

Laporan Future of Work terbaru yang dirilis oleh LinkedIn menemukan bahwa 92% eksekutif di Amerika menganggap keterampilan lunak lebih penting dari sebelumnya.

Sejak November 2022, terlihat bahwa keterampilan lunak (soft skills) yang paling dibutuhkan dalam daftar pekerjaan mencakup komunikasi, fleksibilitas, etika profesional, persepsi sosial, dan manajemen diri, menurut LinkedIn.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Business Insider

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X