Makin Banyak Orang Jepang Enggan Menikah, Ini Alasan yang Dilontarkan Laki-laki maupun Perempuan

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Sabtu, 23 September 2023 | 15:07 WIB
Ilustrasi: Ada banyak alasan mengapa makin banyak orang Jepang yang enggan menikah. (Unsplash/Samuli Jokinen)
Ilustrasi: Ada banyak alasan mengapa makin banyak orang Jepang yang enggan menikah. (Unsplash/Samuli Jokinen)

Dalam survei yang dilakukan pada pertengahan 1980-an, hanya 2,3% laki-laki dan 4,1% perempuan yang mengatakan tidak akan pernah menikah.

Para ahli mengaitkan menurunnya angka perkawinan di Jepang dengan beberapa faktor, termasuk meningkatnya keinginan di kalangan perempuan pekerja muda untuk menikmati kebebasan yang didapat dengan menjadi lajang dan berkarir.

Laki-laki juga mengatakan bahwa mereka ingin menikmati masa lajang, meskipun mereka juga menyuarakan keprihatinan atas keamanan kerja dan kemampuan mereka untuk menafkahi keluarga.

Para ahli telah meminta pemerintah untuk mempermudah perempuan untuk kembali bekerja setelah memiliki anak, dan mengatasi jam kerja yang sangat panjang di Jepang.

Ketika ditanya tentang gaya hidup “ideal” bagi perempuan, hampir 40% laki-laki dan 34% perempuan lajang yang disurvei menyebutkan: kemampuan untuk menyeimbangkan karir dan membesarkan anak.

Sebagai tanda adanya perubahan sikap terhadap peran gender, kurang dari 7% laki-laki mengatakan ingin calon pasangannya tetap tinggal di rumah untuk mengurus keluarga.

Berdampak buruk pada angka kelahiran

Shigeki Matsuda, seorang profesor sosiologi di Universitas Chukyo di Jepang tengah, mengatakan menurunnya angka pernikahan di Jepang akan berdampak buruk pada angka kelahiran.

“Pemerintah Jepang telah berupaya meningkatkan angka kelahiran dengan mencoba membantu mereka yang ingin menikah atau memiliki anak untuk memenuhi aspirasinya,” katanya kepada surat kabar Mainichi Shimbun.

Namun, ternyata hal itu tidak terlalu efektif karena jumlah orang yang tidak ingin menikah terus meningkat. Bahkan, pemerintah terpaksa meninjau kembali kebijakannya, dan hal ini dapat menyebabkan penurunan kesuburan lebih lanjut.

Baca Juga: Sebelum Mengudara sebagai Radio Pertama di Indonesia, RRI Dulunya Radio Jepang Hoso Kyoku

Jika angka kelahiran di Jepang menurun, negara tersebut menghadapi kemungkinan depopulasi yang dramatis sehingga berdampak pada angkatan kerja dan perekonomian.

Jumlah bayi yang lahir di Jepang pada 2021 turun 29.231 atau 3,5%, dari tahun sebelumnya ke rekor terendah 811.604, menurut Kementerian Kesehatan Jepasang pada Juni 2022.

Sementara jumlah pernikahan turun 24.391 menjadi 501.116, angka terendah sejak berakhirnya Perang Dunia II.

Data pemerintah yang dirilis pada Mei 2022, menunjukkan bahwa populasi Jepang turun dengan rekor 644.000 jiwa pada 2021. Ini merupakan penurunan selama 11 tahun berturut-turut. (Elga Windasari)

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: The Guardian, Mainichi.jp, Wion News

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X