Dalam survei yang dilakukan pada pertengahan 1980-an, hanya 2,3% laki-laki dan 4,1% perempuan yang mengatakan tidak akan pernah menikah.
Para ahli mengaitkan menurunnya angka perkawinan di Jepang dengan beberapa faktor, termasuk meningkatnya keinginan di kalangan perempuan pekerja muda untuk menikmati kebebasan yang didapat dengan menjadi lajang dan berkarir.
Laki-laki juga mengatakan bahwa mereka ingin menikmati masa lajang, meskipun mereka juga menyuarakan keprihatinan atas keamanan kerja dan kemampuan mereka untuk menafkahi keluarga.
Para ahli telah meminta pemerintah untuk mempermudah perempuan untuk kembali bekerja setelah memiliki anak, dan mengatasi jam kerja yang sangat panjang di Jepang.
Ketika ditanya tentang gaya hidup “ideal” bagi perempuan, hampir 40% laki-laki dan 34% perempuan lajang yang disurvei menyebutkan: kemampuan untuk menyeimbangkan karir dan membesarkan anak.
Sebagai tanda adanya perubahan sikap terhadap peran gender, kurang dari 7% laki-laki mengatakan ingin calon pasangannya tetap tinggal di rumah untuk mengurus keluarga.
Berdampak buruk pada angka kelahiran
Shigeki Matsuda, seorang profesor sosiologi di Universitas Chukyo di Jepang tengah, mengatakan menurunnya angka pernikahan di Jepang akan berdampak buruk pada angka kelahiran.
“Pemerintah Jepang telah berupaya meningkatkan angka kelahiran dengan mencoba membantu mereka yang ingin menikah atau memiliki anak untuk memenuhi aspirasinya,” katanya kepada surat kabar Mainichi Shimbun.
Namun, ternyata hal itu tidak terlalu efektif karena jumlah orang yang tidak ingin menikah terus meningkat. Bahkan, pemerintah terpaksa meninjau kembali kebijakannya, dan hal ini dapat menyebabkan penurunan kesuburan lebih lanjut.
Baca Juga: Sebelum Mengudara sebagai Radio Pertama di Indonesia, RRI Dulunya Radio Jepang Hoso Kyoku
Jika angka kelahiran di Jepang menurun, negara tersebut menghadapi kemungkinan depopulasi yang dramatis sehingga berdampak pada angkatan kerja dan perekonomian.
Jumlah bayi yang lahir di Jepang pada 2021 turun 29.231 atau 3,5%, dari tahun sebelumnya ke rekor terendah 811.604, menurut Kementerian Kesehatan Jepasang pada Juni 2022.
Sementara jumlah pernikahan turun 24.391 menjadi 501.116, angka terendah sejak berakhirnya Perang Dunia II.
Data pemerintah yang dirilis pada Mei 2022, menunjukkan bahwa populasi Jepang turun dengan rekor 644.000 jiwa pada 2021. Ini merupakan penurunan selama 11 tahun berturut-turut. (Elga Windasari)
Artikel Terkait
Di Aku Tahu Kapan Kamu Mati: Desa Bunuh Diri, Natasha Wilona Ingin Terlihat Suram dan Pucat
Desmonda Cathabel, Orang Indonesia Pertama yang Jadi Putri Jasmine di Teater Musikal Edinburgh
Fenomena Orange Juice Effect: Saat Kinerja Satu Orang Bisa Mempengaruhi Performa Satu Tim
Profesi yang Paling Banyak Jadi Impian Gen Z alias Generasi TikTok Saat Ini: Influencer!
Cara Membeli e-Meterai dan Membubuhkannya di Berkas Seleksi CASN 2023, Kamu Wajib Tahu!
BTS Perbarui Kontrak dengan BIGHIT MUSIC, Langsung Donasi 1 Miliar Won Atas Nama ARMY