Fahri Hamzah: "Jangan Mengambil Keputusan tentang Pemimpin karena Marah dan Kecewa"

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Senin, 29 Januari 2024 | 12:30 WIB
Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran, Fahri Hamzah, mengajak semua elemen bangsa untuk berkepala dingin dan fokus memilih presiden. (Instagram @fahrihamzah)
Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran, Fahri Hamzah, mengajak semua elemen bangsa untuk berkepala dingin dan fokus memilih presiden. (Instagram @fahrihamzah)

PejuangKantoran.comFahri Hamzah mengajak semua elemen bangsa untuk berkepala dingin dan fokus memilih presiden dalam Pemilu 2024 dengan pertimbangan jauh ke depan. Ia berharap impian Indonesia menjadi negara kuat tidak berhenti dalam angan-angan belaka.

"Mari kita gunakan akal kita, siapapun kalian bahwa InsyaAllah ini adalah momen bagi sejarah bangsa, sejarah umat kita akan memimpin dunia ini," ujar Fahri Hamzah, yang bertindak sebagai Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran.

Rekonsiliasi dan persatuan nasional akan sangat menentukan sejarah bangsa ke depan. Fahri Hamzah menambahkan, Indonesia membutuhkan jalan tengah untuk bersatu.

Baca Juga: Lebih Banyak CEO yang Berniat Mengadakan Pelatihan AI ketimbang Mengganti Karyawan dengan AI

Jalan tengah tersebut tidak akan ekstrem ke kanan atau ke kiri, karena fokus mendahulukan kepentingan rakyat. Menurut Fahri, hal ini sangat terlihat dalam proses bersatunya Presiden Jokowi dan Prabowo Subianto.

"Ini adalah dua tokoh besar. Orang hebat dua-duanya, yang selama ini oleh politik dibuat bertengkar, sekarang kita buat mereka bersatu," tutur Fahri pada Minggu (28/1/2024).

"Efek persatuan mereka itu luar biasa, telah melahirkan kebijakan-kebijakan yang akan menjadi game changer, perubahan yang punya efek dahsyat pada perekonomian dan masyarakat secara umum," sambungnya.

Revolusi kebijakan

Fahri pun menyebut relevansi langkah pemerintahan program kerja yang dicanangkan paslon nomor urut 2, Prabowo-Gibran dalam melanjutkan upaya mendorong kemajuan negara.

Dengan demikian, bukan tidak mungkin Indonesia menjadi negara yang diperhitungkan.

"Seperti hilirisasi, seperti rencana untuk memberikan intervensi nutrisi dan gizi pada rakyat Indonesia," jelas Fahri.

Baca Juga: Lowongan Kerja Junior Consultant of Finance di Ernst & Young, Pengalaman 1-2 Tahun sebagai Konsultan

"Ini adalah revolusi kebijakan yang banyak negara tidak suka tentunya. Banyak negara lain yang melihat jejak Indonesia menjadi negara maju, jadi negara kuat, jadi negara superpower itu terlihat di depan mata," tambahnya.

Fahri juga mengatakan bahwa kemerdekaan Indonesia bukan hadiah dari bangsa lain. Oleh karena itu, ia berpendapat bahwa menjadi berdaya merupakan bagian dari usaha menjaga kedaulatan, di mana setiap keputusan pro rakyat hanya bisa diambil oleh pemimpin yang berani.

"Kalau Indonesia mau jadi negara superpower, negara kuat, yang bisa mensejahterakan rakyatnya, itu tidak mungkin kita titipkan kepada negara lain," ucap Fahri.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X