Daripada Merekrut Karyawan Baru dari Luar, Perusahaan Lebih Suka Quiet Hiring dari Dalam

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Sabtu, 4 Mei 2024 | 13:17 WIB
Ilustrasi: Dengan quiet hiring, perusahaan tidak hanya mempertahankan jumlah karyawan yang stabil tetapi juga menumbuhkan budaya pembelajaran berkelanjutan dalam organisasi. (Freepik)
Ilustrasi: Dengan quiet hiring, perusahaan tidak hanya mempertahankan jumlah karyawan yang stabil tetapi juga menumbuhkan budaya pembelajaran berkelanjutan dalam organisasi. (Freepik)

PejuangKantoran.com - Salah satu tantangan yang dihadapi perusahaan saat ini adalah mempertahankan jumlah karyawan yang stabil, sekaligus menjalankan pengembangan karyawan yang sudah ada.

Untuk menjembatani kesenjangan bakat sambil mencapai kedua tujuan tersebut, sekarang perusahaan cenderung melakukan "quiet hiring" atau perekrutan secara diam-diam.

Quiet hiring dianggap sebagai alternatif yang strategis. Daripada terus-menerus memperluas tenaga kerja melalui perekrutan eksternal, perusahaan merasa lebih baik fokus meningkatkan keterampilan dan pelatihan ulang karyawan.

Baca Juga: Pandemi Berlalu, 65% Gen Z dan 72% Milenial Ingin Lebih Banyak Liburan Tahun 2024

Dengan cara ini, mereka tidak hanya mempertahankan jumlah karyawan yang stabil tetapi juga menumbuhkan budaya pembelajaran dan pertumbuhan berkelanjutan dalam organisasi.

Tidak seperti kata kunci lainnya, silent recruitment semacam ini tampaknya akan tetap ada. Tahun lalu, perusahaan riset global Gartner memasukkan quiet hiring sebagai salah satu prediksi tren tenaga kerja teratas untuk tahun 2023.

Memberdayakan karyawan yang ada

Setahun terakhir telah terjadi peningkatan taktik memecat dan mempekerjakan kembali, di mana banyak perusahaan –termasuk Google, TikTok, dan Grammarly– mengumumkan PHK karyawan, terutama untuk mengakomodasi talenta baru yang berketerampilan AI.

Gelombang PHK global ini membuat perusahaan harus menghadapi tantangan yang lebih besar: menyeimbangkan jumlah tenaga kerja sambil tetap berinvestasi pada pertumbuhan tim.

Di sinilah peningkatan keterampilan dibutuhkan, kata René Janssen, founder dan CEO Lepaya, perusahaan edtech dari Amsterdam. Tim manajemen menyadari potensi besar yang ada dalam sumber daya manusia yang ada.

Dengan berinvestasi pada inisiatif peningkatan keterampilan, perusahaan bisa memberdayakan karyawannya untuk memperoleh keterampilan baru, beradaptasi dengan perkembangan teknologi, dan menghadapi tantangan baru.

Baca Juga: Alasan Indonesia Tawarkan Kewarganegaraan Ganda untuk WNI yang Tinggal di Luar Negeri

Quiet hiring juga mendorong budaya pembelajaran yang berkelanjutan, sehingga mendorong karyawan untuk secara proaktif mencari dan mengejar peluang untuk berkembang.

Hal ini dilakukan dengan memberdayakan talenta yang ada, mendorong mereka untuk mengeksplorasi berbagai peran dan proyek dalam perusahaan, dan berinvestasi dalam pengembangan mereka.

Dengan mengambil langkah-langkah ini, tim manajemen dapat memitigasi kekurangan talenta, sekaligus mendorong loyalitas, kepuasan, dan retensi karyawan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: EuroNews

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X