PejuangKantoran.com - Siapapun pasti tahu, lingkungan kerja yang toxic bikin kita nggak semangat bekerja, malas terlibat dengan kehidupan kantor, bahkan produktivitas bisa menurun. Dampak seperti ini ternyata bukan karena kita baperan.
Studi menunjukkan bahwa keselamatan dan kesejahteraan di tempat kerja mengalami penurunan pada tahun 2024, akibat ancaman dunia maya, kekerasan di tempat kerja, dan penembakan massal.
Mulai dari membual karena stres hingga gantung diri, kesopanan di tempat kerja merosot, di mana 66% responden dalam penelitian lain melaporkan adanya gaslighting, agresi pasif, dan interupsi dalam hanya sebulan setelah bekerja.
Baca Juga: Proses Penonaktifan NIK Warga DKI yang Sudah Tidak Berdomisili di Jakarta Masih Berlangsung
Beberapa karyawan yang bekerja jarak jauh menerapkan standar etiket yang lebih longgar saat bekerja sendiri, yang dalam beberapa hal membuat kita lebih produktif.
Sebelum pandemi, ketika sebagian besar karyawan bekerja berdekatan di kubikel, mereka harus memakai busana kantor yang rapi, menjaga volume suara dan perilaku agar tidak mengganggu rekan kerja.
Saat ini, meski lebih banyak dari kita yang bekerja dari rumah, etika kerja tentunya tetap penting. Namun, para pekerja hybrid terkadang mengabaikan tata krama saat bekerja.
“Bahkan di dunia digital yang liar ini, di mana 58% profesional AS bekerja dari jarak jauh, orang sering lupa bahwa tiba-tiba menelepon rekan kerja, mengirim pesan audio yang panjang, atau makan siang selama Zoom meeting sebenarnya tidak diperbolehkan,” tegas Yulia Mamonova, Head of Content di Lemon.io.
Ketidaksopanan yang mengganggu di tempat kerja
Studi baru dari Kickresume terhadap 2.894 karyawan yang digelar untuk lebih memahami bagaimana orang mengelola perilaku kasar rekan kerja mendapati berbagai jenis rekan kerja yang menyebalkan: di mana perilaku ini muncul, bagaimana karyawan menghadapinya, atau berharap bisa mengatasi masalah itu.
Temuan itu menunjukkan bahwa 85% orang pernah berurusan dengan rekan kerja yang menyebalkan, dan 58% mengatakan perilaku tersebut berdampak signifikan terhadap produktivitas mereka.
Baca Juga: Cathay Pacific Digelari Maskapai Penerbangan Terbersih Di Dunia, Indonesia Dapat Penghargaan Apa?
CEO Kickresume Peter Duris mengatakan bahwa orang sering menghindari konfrontasi langsung, sehingga dia menyimpulkan banyak tempat kerja yang kekurangan pelatihan komunikasi dan sumber daya penyelesaian konflik.
“Temuan kami cukup memprihatinkan, jadi kami ingin menekankan pentingnya menciptakan tempat kerja yang harmonis di mana perilaku-perilaku ini dapat diatasi," kata Duris.
"Hal ini dapat melibatkan upaya diplomatis untuk menyadarkan staf mengenai dampak tindakan mereka terhadap tim. Melakukan hal ini akan membantu membangun tempat kerja yang lebih bersatu, ramah dan efisien."
Artikel Terkait
Voice of Baceprot Manggung di Glastonbury Festival 2024, Apa yang Mereka Khawatirkan?
Pemerintah Bubarkan 8 BUMN yang Tidak Perform, Salah Satunya Merpati Nusantara Airlines
Luxasia Buka Lowongan Kerja Sebagai PR dan Digital Executive
Lowongan Kerja Jadi Social Media Strategist di PT Kawan Lama Group
4 Program Beasiswa Baru bagi yang Ingin Mengikuti Seleksi Beasiswa LPDP Tahap 2
Nggak Harus Ke Luar Negeri, Beasiswa LPDP Juga Kerja Sama dengan Perguruan Tinggi Dalam Negeri
Kopi Kenangan Buka 2 Lowongan Kerja: Local Store Marketing dan Asistant Brand Manager