Tak Hanya Sukatani Berikut Ini Musisi Dalam dan Luar Negeri yang Lagu-Lagunya Kritis dan Berani

photo author
Sigit Triwahyu, Pejuang Kantoran
- Minggu, 23 Februari 2025 | 21:35 WIB
Tka hanya Sukatani, banyak musisi yang lagu-lagunya kritis dan berani. (Instagram @sukatani.band)
Tka hanya Sukatani, banyak musisi yang lagu-lagunya kritis dan berani. (Instagram @sukatani.band)

Sementara untuk yang musisi dalam negeri, ada beberapa seperti berikut:

Iwan Fals

Musisi senior ini memag terkenal dengan lagu-lagu dengan lirik-lirik yang lugas mengkritik pemerintahan era Orde Baru. Misal lagu Surat Buat Wakil Rakyat yang diciptakan tahun 1987. Lagu ini mengkritik tajam peran wakil rakyat yang dianggapnya tidak mewakili rakyat.

Lalu lagu Pesawat Tempurku yang dirilis tahun 1988 dalam album 1910. Meskipun nadanya cerita namun isi liriknya mengkritik pemerintahan dan meggambarkan kondisi masyarakat saat itu.

Bahkan Iwan Fals juga menciptakan lagu-lagu kritis yang tidak ia nyanyikan sendiri. Lewat nama pena Pitat Haeng, Iwan menciptakan lagu Pak Tua yang dinyanyikan oleh grup rock Elpamas pada tahun 1991. Lagu ini konon menyindir keras Presiden Soeharto saat masih menjabat, namun disampaikan dengan lirik metafor dan cukup jenaka.

Sukatani

Band punk rock asal Purbalingga ini lirik-lirik lagunya sarat kritik sosial politik. Tak hanya lagu Bayar Bayar Bayar yang lugas dalam meyampaikan kritikan. MIsal, lagu Jangan Bicarakan Solidaritas dan Tanam Kemandirian yang berupa kritik sosial.

Baca Juga: Putri Ariani Lolos ke Babak Final AGT, Bawakan Lagu U2 dan dapat 4 Standing Ovation

Slank

Super grup rock Indonesia ini lagu-lagunya cukup banyak yang sarat dengan kritikan politik. Misal lagu Gossip Jalanan yang diciptakan tahun 2004 yang isinya antara lain kritik tentang pembelian suara dalam pemilu, mafia dalam instansi penegak hukum dan keadilan. Bahkan lagu ini nyaris menyeret Slank ke meja hijau.

Lalu lagu Seperti Para Koruptor pada tahun 2008 yang menyindir para terdakwa korupsi dari kalangan pemerintahan saat itu. Kemudian lagu Naik-Naik Ke Puncak Gunung tahun 1998 yang dirilis dalam album Mata Hati Reformasi. Album ini menggambarkan situasi kirisis moneter tahun 1998.

Navicula

Band rock asal Pulau Bali ini juga mempunyai banyak lagu-lagu yang kritis. Misal Mafia Hukum, Metropolitan, Busur Hujan. Yang menarik, Navicula juga kritis terhadap perusakan lingkungan seperti di lagu Orang Utan. Lagu ini menceritakan terancamnya keberadaan orangutan karena ulah manusia yang serakah.

Selain, nama-nama di atas, masih banyak musisi dalam dan luar negeri yang sangat kritis terhadap kehidupan sosial politik. Karena dalam sejarahnya, lagu-lagu itu digunakan untuk meneriakkan ketidak puasan, harapan, dan cita-cita.

Menurut Dr. Martin Luther King, lagu-lagu kebebasan itu memainkan peran yang kuat dan vital dalam perjuangan. Lagu-lagu tersebut memberi orang-orang keberanian dan rasa persatuan, harapan untuk masa depan terutama di saat-saat tersulit. ***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Sigit Triwahyu

Sumber: kompas.com, genius.com, binus.ac.id, Kapanlagi.com, Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X