Adopsi GenAI di Indonesia Meningkat Pesat, Namun Keterwakilan Perempuan Masih Tertinggal

photo author
Christina A.S, Pejuang Kantoran
- Rabu, 5 Maret 2025 | 20:52 WIB
 (Freepik/Rawpixel)
(Freepik/Rawpixel)

PejuangKantoran.com - Indonesia menunjukkan adopsi yang pesat terhadap teknologi Generative AI (GenAI), namun keterwakilan perempuan dalam sektor ini masih sangat terbatas. Coursera, platform pembelajaran online terkemuka, baru-baru ini merilis buku panduan berjudul "Menutup Kesenjangan Gender dalam Keterampilan GenAI" yang berfokus pada strategi untuk memberdayakan perempuan agar dapat memanfaatkan potensi GenAI secara maksimal.

Buku panduan ini mengidentifikasi tantangan yang dihadapi perempuan dan menawarkan langkah-langkah konkret untuk mendorong partisipasi yang lebih besar di bidang teknologi ini.

Meskipun Indonesia menduduki peringkat ke-23 dunia dalam pendaftaran GenAI di kalangan perempuan, data dari Coursera menunjukkan adanya kesenjangan yang signifikan dalam adopsi keterampilan GenAI. Di Indonesia, perempuan menyumbang 49% dari total pembelajar, namun hanya 30% yang mendaftar untuk kursus GenAI. Angka ini sejalan dengan tren global, di mana perempuan mewakili 32% dari total pendaftaran GenAI.

Baca Juga: 7 Tempat Ngabuburit Seru dan Hits di Jakarta yang Wajib Kamu Kunjungi

Namun, terdapat perkembangan yang menggembirakan. Pada tahun 2024, pendaftaran perempuan untuk kursus GenAI di Indonesia meningkat pesat, dengan angka pertumbuhannya mencapai 536%, jauh lebih tinggi daripada pertumbuhan 383% yang tercatat pada pendaftaran laki-laki. Meskipun demikian, untuk mempercepat keberagaman di sektor ini, diperlukan lebih banyak upaya untuk mendukung partisipasi perempuan dalam teknologi yang sangat transformatif ini.

Hambatan-Hambatan dalam Partisipasi Perempuan di GenAI

Buku panduan Coursera mengidentifikasi beberapa faktor utama yang menghambat partisipasi perempuan dalam bidang GenAI. Salah satu hambatan terbesar adalah kurangnya kepercayaan diri, yang mempengaruhi ketekunan perempuan dalam mengikuti kursus-kursus di bidang ini. Banyak perempuan cenderung memilih kursus dengan tingkat pemula karena merasa lebih nyaman dengan materi yang lebih terstruktur dan mudah diakses. Hal ini tercermin dalam tren di Indonesia, di mana kursus pengantar menjadi pilihan yang paling populer di kalangan perempuan.

Selain itu, kurangnya waktu dan panduan yang jelas juga menjadi faktor penghambat yang signifikan. Banyak perempuan mengungkapkan bahwa "kurangnya waktu" adalah alasan utama mereka tidak melanjutkan kursus STEM, karena mereka harus menyeimbangkan antara pekerjaan dan tanggung jawab pengasuhan anak. Laporan dari Boston Consulting Group (BCG) menunjukkan bahwa hanya 51% perempuan di Indonesia yang terpapar teknologi sebelum masuk universitas, menyoroti pentingnya akses lebih awal ke pendidikan STEM untuk menjembatani kesenjangan gender ini.

Baca Juga: Jose Munoz, CEO Hyundai Motor Company Jadi Person of the Year 2025 Versi MotorTrend

Meningkatkan Keterlibatan Melalui Akses yang Lebih Relevan

Buku panduan Coursera juga mengungkapkan bahwa banyak perempuan meragukan relevansi keterampilan GenAI dalam kehidupan mereka sehari-hari. Oleh karena itu, mereka akan lebih tertarik untuk mengembangkan keterampilan ini apabila GenAI dihubungkan dengan bidang-bidang yang lebih praktis, seperti kesehatan, pendidikan, atau industri kreatif. Menyediakan kursus AI yang interdisipliner dan berbasis studi kasus dunia nyata dapat membuat AI lebih menarik dan relevan untuk perempuan.

Data juga menunjukkan bahwa perempuan cenderung lebih memanfaatkan fitur pembelajaran yang dipersonalisasi. Mereka lebih sering menggunakan Coursera Coach, sebuah layanan pembelajaran yang dipandu dengan rekomendasi yang disesuaikan, yang membantu mereka memahami dan menguasai materi AI secara lebih efektif.

Perlunya Panutan dan Mentor Perempuan dalam AI

Kurangnya panutan perempuan di bidang AI juga menjadi tantangan besar dalam mendorong keterlibatan dan mempertahankan perempuan dalam sektor ini. Penelitian menunjukkan bahwa kehadiran mentor atau guru perempuan dalam bidang STEM meningkatkan peluang perempuan untuk memilih karir di bidang tersebut. Data dari Coursera mengungkapkan bahwa kursus STEM dengan setidaknya satu instruktur perempuan cenderung menarik lebih banyak pendaftaran perempuan, dengan kenaikan hingga 7%.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Christina A.S

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X