Frustrasi Mencari Pekerjaan, Gen Z di China Rela Bayar Rp100 Ribu untuk Pura-pura Kerja

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Selasa, 19 Agustus 2025 | 10:08 WIB
Ilustrasi: Pengangguran di China berada pada tingkat yang mengkhawatirkan, sehingga banyak lulusan baru yang pura-pura kerja di kantor palsu. (Freepik)
Ilustrasi: Pengangguran di China berada pada tingkat yang mengkhawatirkan, sehingga banyak lulusan baru yang pura-pura kerja di kantor palsu. (Freepik)

"Bayangkan, kamu melamar ke mana-mana, tapi terus di-ghosting atau ditolak. Hal itu bisa sangat menguras kepercayaan diri dan kesehatan mental," katanya.

Datanya bisa jadi lebih buruk 

Menurut Profesor Zhang Dandan dari Universitas Peking, tingkat pengangguran anak muda bahkan sempat diduga mencapai 46% pada tahun 2023. Angka ini membuat pemerintah menghentikan pelaporan resminya.

Parahnya, beberapa universitas dilaporkan meminta lulusan mereka “memalsukan status kerja” demi menjaga reputasi program studi agar tidak dibekukan oleh pemerintah.

Henry Gao, profesor hukum dari Singapore Management University, menilai realitas di lapangan kemungkinan lebih buruk.

Baca Juga: Pensiun Mikro: Libur Panjang di Tengah Karir, Tren Baru Anak Muda yang Lagi Naik Daun

“Kampus memiliki insentif untuk menaikkan angka lulusan yang dianggap sudah bekerja. Ada kasus universitas merekrut lulusannya sendiri hanya agar data terlihat baik,” ujarnya.

Apa sisi positifnya?

Meski terdengar pesimistis, ada sisi positif dari tren kantor palsu ini. Setidaknya, para pencari kerja tetap terdorong untuk bangun pagi, bersosialisasi, dan menjaga rutinitas produktif.

Beberapa bahkan memanfaatkan fasilitas seperti komputer, ruang yang tenang, serta kopi dan camilan gratis untuk membangun bisnis kecil atau portofolio.

Pretend office” mungkin rada aneh kesannya, tapi di tengah pasar kerja yang lesu dan tekanan sosial, tempat-tempat seperti ini menjadi "penyelamat mental" agar para pencari kerja tetap merasa punya tujuan, meski hanya sementara.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Fortune

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X