PejuangKantoran.com - Tenaga kerja meningkat, tapi lapangan kerja terbatas. Ternyata hal ini nggak cuma terjadi di Indonesia. Masyarakat di China, yang terkenal dengan ketekunan dan semangat juangnya yang tinggi, juga mengalaminya.
Tingkat pengangguran di China saat ini bahkan berada pada titik yang sangat mengkhawatirkan. Hal itu memicu tren unik sekaligus ironis: banyak lulusan muda rela membayar sekitar 30–50 yuan per hari (sekitar Rp60-100 ribu) hanya untuk pura-pura kerja di kantor palsu.
Kantor palsu ini dikelola oleh sebuah bisnis bernama Pretend to Work Company, yang sudah hadir di kota-kota besar seperti Shanghai, Shenzhen, hingga Chengdu.
Baca Juga: Belum Dapat Tempat buat Magang? Nih, Lowongan Magang Product Support Intern di Blibli.com
Buat kita yang masih pengangguran rasanya memang aneh, mengapa justru harus membayar sesuatu yang palsu jika kita belum punya penghasilan?
Namun, tren ini bukan sekadar gaya hidup iseng. Dengan tingkat pengangguran anak muda yang mencapai 14,5%, banyak fresh graduate berpendidikan tinggi yang merasa frustrasi karena sulit mendapat pekerjaan tetap.
Di kantor palsu inilah, mereka mencoba menjaga rutinitas, mengerjakan proyek pribadi, membangun usaha rintisan, atau sekadar melamar pekerjaan biar nggak merasa sendirian.
Menurut Christian Yao, dosen senior di School of Management, Victoria University of Wellington, fenomena pura-pura bekerja ini sekarang sudah sangat umum.
"Karena adanya transformasi ekonomi dan ketidaksesuaian antara pendidikan dan pasar kerja, kaum muda butuh ruang transisi untuk berpikir tentang langkah berikutnya, sembari tetap produktif,” ujarnya kepada BBC.
Gaya hidup “Rat People”
Baca Juga: 5 Kiat Minta Bantuan Koneksi di LinkedIn untuk Cari Pekerjaan tanpa Terkesan Memaksa
Yang lebih ekstrem, sebagian anak muda memilih hidup pasif di rumah saja, seperti rebahan seharian sambil main ponsel, fenomena yang disebut bed rotting.
Di media sosial Tiongkok, istilah “rat people” atau “generasi tikus” sempat viral. Mereka bangga menyebut diri demikian, sebagai bentuk protes diam terhadap tekanan sosial dan ekonomi.
Bukannya aktif mencari pekerjaan, mereka malah bermalas-malasan sambil berlama-lama tidur siang. Advita Patel, career coach dan presiden Chartered Institute of Public Relations, menyebut tren ini sebagai bentuk perlawanan mental.
“Ini bukan sekadar Gen Z malas, tetapi bentuk protes senyap terhadap burnout dan pasar kerja yang dianggap tidak ramah.
Artikel Terkait
Bukan Biar Deg-degan, Ini Alasan Posisi Paskibraka Baru Diumumkan 17 Agustus 2025 Pagi Hari
Ini Dia 6 Siswa yang Menjadi Tim Pengibar Bendera Pusaka saat Upacara Detik-detik Proklamasi
Lima Panggung Hiburan Disiapkan untuk Pesta Rakyat HUT ke-80 RI di Monas
Dalam Bermain Padel Kenali Teknis, Tujuan, dan Waktu Penggunaan Berbagai Jenis Pukulan
Kerja Tanpa Topeng: Cara Perusahaan Bikin Karyawan Merasa Aman Secara Psikologis
'Hanya Namamu dalam Doaku' Angkat Dinamika Hubungan Pengidap ALS dengan Para Caregiver-nya
Tren Busy Bragging: Ajang Pamer Kesibukan di Tempat Kerja sampai Kewalahan. Demi Apa, Sih?